connect:

Latest Post

Thursday, September 30, 2010

makalah orientalisme


Kontribusi Orientalisme Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Oleh: Aris Kurniawan
(Mahasiswa Fakultas Dakwah Semester V Asal Pekalongan Jawa Tengah)

I. Pendahuluan
Ketika mendengar kata orientalis atau orientalisme mungkin yang pertama kali terlintas di benak kita adalah usaha-usaha dari orang orang barat non islam yang mencoba untuk merusak dan memutarbalikkan ajaran ajaran islam, bahkan yang bersifat fundamental. Hal ini tentu bukan hal yang asing mengingat banyaknya kaum orientalis yang menerbitkan karya yang kontroversial bagi orang islam, bahkan sebagian dianggap telah melecehkan umat islam, entah karena pendapat mereka terhadap agama islam, atau karena pandangan mereka terhadap tokoh tokoh islam.
Perkembangan orientalisme di dunia barat tergolong cukup pesat, mengingat banyaknya ilmuan yang rela mengabdikan dirinya untuk mempelajari peradaban timur. Hal ini bias saja direspon secara positif ataupun negative oleh umat islam sendiri. Respon negatif dari umat islam bisa muncul karena kajian yang dilakukan oleh para orientalis dinilai telah menghasilkan teori yang bertentangan dengan keyakinan umat islam terhadap peradaban islam, bahkan terhadap ajaran islam. Bukan hanya itu saja umat islam juga menganggap hal yang dilakukan para orientalis tersebut mempunyai motifasi motifasi tertentu untuk merusak ajaran agama islam. Sedangkan respon positif muncul karena ada sebagian orientalis yang mempelajari ajaran islam kemudian memeluk islam, karena menemukan kebenaran dalam agama islam. Dan juga para orientalis dinilai menghasilkan karya dengan pandangan yang objektif terhadap peradaban islam dan juga ajaran islam, karena orientasi mereka hanya semata-mata untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Memang para orientalis telah mempelajari agama islam dari sudut pandang mereka, meskipun beberapa kajian para orientalis dianggap objektif, tetapi subjektifitas seseorang tidak bias lepas begitu saja dari pendapat yang ia keluarkan, karena subjektifitas merupakan landasan berpikir dari seseorang. Meskipun begitu karya orientalis itu mempunyai kontribusi yang besar bagi perkembangan pemikiran umat islam. Karena jika muncul pendapat yang dinilai negative dari para orientalis, tentu umat islam tidak akan tinggal diam dan akan membuktikan kepada mereka bahwa teori mereka telah salah.
II. Pembahasan
Setiap hal yang dilakukan seseorang tentu mempunyai manfaat yang dapat kita ambil sebagai pelajaran, entah yang mereka lakukan itu kita anggap sebagai hal yang salah ataupun hal yang benar. Karena menurut saya segala sesuatu yang ada didunia ini saling berhubungan, berkaitan dan saling berpengaruh. Satu hal kecil yang dilakukan seseorang akan menimbulkan efek kepada orang lain.
Hal ini juga yang terjadi ketika para orientalis mulai mempelajari ajaran islam dan kemudian menghasilkan berbagai karya dari penelitian mereka. Bagi saya bukanlah hal yang aneh ketika orang orang barat berbondong-bondong untuk mempelajari peradaban islam, karena sebelum mereka mengenal ilmu pengetahuan, umat islam sudah mencapai masa keemasan dari peradaban mereka, dan hingga kini para orientalis masih melakukan kajian terhadap peradaban islam.
Sebelum melangkah lebih jauh perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan orientalis ataupun orientalisme dan mengapa mereka begitu kontroversial di kalangan umat islam.
1. Pengertian
Orientalisme itu sendiri sebenarnya istilah atau sebutan bagi orang-orang Kristen Eropa (orang Barat) yang mengkaji bahasa, kebudayaan dan segala sesuatu yang berkenaan dengan bangsa-bangsa timur. Orangnya lalu disebut sebagai orientalis.
Namun dalam prakteknya, ternyata studi orang Kristen Barat itu malah lebih mengkhususkan pada ajaran Islam. Terutama soal bahasa Arab dan Al-Qur’an yang merupakan sumber hukum umat Islam. Karenanya kemudian, seperti kata Umar Farrukh dalam Al-Islam wa-’l-Mustasyiriquun, bila dibilang orientalis maka berarti orang Barat non-Muslim yang mengkaji dan ahli dalam bidang ilmu Islam. Orientalis itu memang bukan orang Islam, tapi jago dalam berbahasa Arab atau ilmu-ilmu Islam.
Menurut DR. Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Madinah, orientalisme didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bersumber dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).
Menurut Edward Said ada tiga definisi yang komprehensif dan saling terkait mengenai orientalisme.
Pertama, yang lebih bersifat akademis, orientalisme adalah sebuah tradisi akademis. Definisi ini mengacu kepada lembaga-lembaga dan sarjana yang mempelajari Timur dan menghasilkan serangkaian tesis, bahkan doktrin dan dogma mengenainya.
Kedua, definisi yang lebih umum, orientalisme adalah corak pemikiran (style of thought) yang didasarkan kepada distingsi epistemologis yang dibuat antara Timur dan Barat. Dalam corak pemikiran ini, Timur dipandang sebagai ‘yang lain’ (the other), yang karenanya kemudian Barat bisa ‘diadakan’. Begitulah, sejumlah besar penulis (penyair, novelis, filosof, teoretikus politik, ekonom, dan sebagainya) menerima distingsi pokok anara Timur dan Barat sebagai titik tolak untuk menyusun berbagai teori, epic, novel, deskripsi sosial, dan paparan politik mengenai Timur.
Dan ketiga, definisi yang lebih bercorak historis dan materialis, orientalisme adalah jenis pengetahuan Barat yang bertujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangakan kekuasaan atas Timur. Definisi ini dirumuskan Edward Said berdasarkan gagasan Michael Foucault mengenai wacana (discourse).

2. Sejarah Singkat
Menurut para pengamat menentukan secara pasti awal kemunculan orientalisme sangatlah sulit. Tetapi sebagian sejarawan cenderung bahwa orientalisme bermula dari zaman daulah islamiah di Andalusia. Sebagian lain mengatakan bahwa organisasi ini bermula ketika terjadi Perang Salib. Khusus tentang Orientalisme Ketuhanan keberadaannya sudah tampak secara resmi sejak dikeluarkannya keputusan Konsili Gereja Viena tahun 1312 M dgn memasukkan materi bahasa Arab ke berbagai Universitas di Eropa. Orientalisme muncul di Eropa pada penghujung abad 18 M. Pertama kali muncul di Inggris tahun 1779 M; di Prancis tahun 1799. Dan setelah itu semakin berkembang hingga sanggup mengadakan muktamar tahunan Hingga sekarang tidak kurang dari 30 kali muktamar tingkat internasional telah diselenggarakan belum lagi berupa diskusi seminar dan pertemuan-pertemuan yg bersifat regional seperti muktamar orientalis Jerman yg diselenggarakan di kota Dresden Jerman Barat tahun 1849 M. Sampai sekarang muktamar seperti itu masih tetap berlangsung. Dalam kegiatan itu hadir ratusan ilmuwan orientalis. Dalam muktamar Oxford misalnya telah hadir tidak kurang dari 900 ilmuwan dari 25 negara 80 universitas dan 69 lembaga ilmiah.
3. Kontribusi Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Memang tidak semua karya orientalis membuat pandangan yang miring terhadap agama islam atau menyatakan bahwa sesuatu yang selama ini diyakini oleh orang islam akan kebenarannya kemudian disalahkan oleh penelitian yang kaum orientalis lakukan. Prof. Hamka menyebutkan, bahwa ada tiga tujuan orientalisme di dunia Islam, yaitu (1) Untuk penyebaran agama Kristen ke negeri-negeri Islam, (2) Untuk kepentingan penjajahan, (3) Untuk kepentingan ilmu pengetahuan semata.
Sebuah kajian yang sangat kritis dan serius tentang kajian orientalisme dalam studi Islam baru-baru ini dibahas dalam Jurnal ISLAMIA Vol II/3. Dalam tulisannya, Hamid Fahmy Zarkasyi menunjukkan, bahwa betapa pun halusnya, ada saja kekeliruan orientalis dalam melakukan studi terhadap Islam. Montgomery Watt, misalnya, yang selama ini dianggap orientais moderat, ketika menulis tentang Al-Quran dan hadits, ia juga meragukan otentisitas ajaran Islam. Ia mencoba membuktikan, bahwa bagian Al-Quran dan hadits adalah dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karena itu tidak dapat dijadikan sebagai sumber pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya ayat-ayat setan dalam Al-Quran. (Muhammad at Mecca, 1960, 103).
Dengan kata lain karya dari Montgomery tersebut telah menggugah umat islam untuk meneliti lebih jauh tentang peradaban islam sendiri dan memilah milah mana yang fakta dan mana yang opini. Dan berusaha untuk melawan teori yang dikemukakan oleh para orientalis dengan argument yang dapat mereka terima bukan dengan alquran atau hadis. Dan juga tidak hanya mengkritisi karya karya orientalis dari sudut pandang orang islam sendiri, atau hanya menyatakan bahwa apa yang mereka kemukakan itu salah tetapi juga mampu membuktikannya. Hal ini bias kita lihat dari banyaknya orang islam yang menjadi kristolog untuk kemudian mengemukakan argument berdasarkan agama mereka. Hal ini kelihatannya bukan lagi menjadi masalah ilmu pengetahuan saja tetapi juga masalah persaingan agama.
Tetapi banyak juga teori dari para orientalis yang dianggap cukup obyektif salah satunya adalah yang diambil oleh Qosim Nursheha Dzulhadi yang menyatakan bahwa tasawuf murni berasal dari agama islam dengan argument yang dikemukakan oleh, Nicholson. Ia berkata; ''Kita tidak melihat dari perkataan para Sufi yang zuhud, seperti Ibrahim bin Adham (w. 161 H), Daud al-Thâ'iy (w. 165 H), Fudhail bin 'Iyâdh (w. 187 H), Syaqîq al-Balkhiy (w. 194 H), yang menunjukkan bahwa mereka terpengaruh oleh Kristianitas atau dengan sumber-sumber asing yang lainnya, kecuali hanya sedikit sekali. Dengan kata lain, tampak jelas bagi kita bahwa jenis ini
(Sufisme Islam) adalah –setidaknya ada kemungkinan—lahir dari gerakan Islam
itu sendiri. Ia merupakan produk yang lazim dari pemikiran Islam yang
berasal dari Allah.''
Dalam bidang sufisme islam para orientalis mempunyai kontribusi yang sangat besar. Menurut Dr. Adil Al-Alusiy, Nicholson telah menulis sebuah studi yang cukup berharga tentang pengaruh pengaruh asing dalam sufisme islam dan juga diskusinya mengenai masalah masalah penting sufisme ketika menganalisa konsep wahdatul wujud menurut al-hallaj, ibnu Faridh dan juga Ibnu Arabi.
Selain itu para orientalis juga banyak melakukan verifikasi tentang literature sufisme seperti verifikasi L. Masignon atas Rasa’il Al-Hallaj yang ditulis oleh Abu Mughits Husain bin Mansyur. Kemudian J Von Hammer yang menerjemahkan buku Al-Taiyah al-Kubra karya Ibnu Faridh ke dalam syair.
Hal tersebut seharusnya menggugah umat islam untuk bias berbuat lebih baik dan lebih kritis daripada yang dilakukan oleh para orientalis. Dan juga umat islam tidak boleh lengah apalagi merasa terbantu. Karena itu umat islam harus mengkritisi kontribusi mereka. Karena sebagaimana kajian Dr. Luthil (Dekan Islamic Studies. Universitas Mc. Gill, Canada), beliau menyatakan bahwa tidak semua kaum sufi itu masuk dalam bingkai islam, bahkan diantara mereka ada yang amat berlebih lebihan yang digolongkan kafir (dikafirkan) oleh sebagian umat islam.
Kemudian dalam bidang hokum islam para orientalis juga banyak melakukan kajian bahkan sejak zaman Ignaz Goldziher (1855-1921), David Santillana (1855-1931), dan Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) hingga masa keemasan Joseph Schacht (1902-1969), yang ternama karena studi-studi hukum Islamnya, hukum Islam telah banyak dikaji di Barat.
Kemudian bagaimana dengan umat islam itu sendiri seharusnya mereka lebih banyak dan lebih lama melakukan kajian terhadap hokum islam dan menghasilkan hokum yang lebih sesuai dengan ajaran islam daripada kajian yang dilakukan oleh para orientalis.
Memang pernah ada anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan umat islam hanya cukup dengan apa yang telah ada pada zaman rosul dan sahabat. Padahal jika ditelusuri, maka pendapat umum bahwa pintu ijtihad telah tertutup sesungguhnya tidak lepas dari kontribusi ilmiah para orientalis generasi pertama seperti Ignaz Goldziher dan Snouck Hurgronje. Tetapi Joseph Schacht-lah kemudian yang banyak sekali menyebut dan mempopulerkan pandangan ini dalam karya monograph-nya seperti ¬The Origin of Muhammadan Jurisprudence dan The Introduction to Islamic Law, maupun karya-karya essay lainnya.
Karena banyaknya karya para orientalis kemudian muncul perlawanan dari umat islam sendiri. Perjuangan melawan para orientalis itu timbul pada suatu perspektif baru oleh Edward Said dalam bukunya tentang Orientalism. Dia terutama tertarik kepada "orientalisme modern" yang mulai ke arah akhir abad ke delapan belas.
III. Kesimpulan
Ada banyak efek yang ditimbulkan dari kajian yang dilakukan para orientalis. Entah itu negative ataupun positif. Tetapi menurut saya para orientalis itu telah menimbulkan semangat dari umat islam untuk lebih mencintai agamanya dan juga menyaring informasi yang masuk dengan lebih teliti. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ulil Abshar Abdalla “Kawan, surat Anda tentang peran orientalis dalam pengkajian Islam sangat baik. Poin yang perlu ditambahkan kepada ulasan Anda adalah: jika umat Islam merasa keberatan dengan studi-studi orang barat atas “dunia timur”, maka ada baiknya orang Islam melakukan “orientalisme terbalik”, yakni timur melakukan kajian atas barat. Dengan demikian akan terjadi proses belajar yang saling memperkaya antara wetan dan kulon.
Kemudian kita perlu bertanya mengapa para orientalis itu mempelajari agama dan peradaban islam dengan sungguh sungguh. Bias jadi ada banyak motifasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Hamka. Wilfred Cantwell Smith telah menulis: Pengamatan saya pada studi Ketimuran dan sedikit tentang Afrika lebih dari dua puluh tahun, bahwa kekurangan dan cacat mendasar peradaban Barat dalam peranannya di dunia sejarah adalah arogansi (kesombongan), dan sikap ini juga telah mempengaruhi sikap Gereja Kristen. Mungkin hal ini juga menjadi latar belakang mereka dan juga sebagaimana yang kita ketahui bahwa ajaran agama Kristen juga bermasalah sehingga terpecah menjadi dua.
Selain itu banyak juga yang memang mencari kebenaran tentang agama islam. Hal ini bias dilihat dari beberapa orientalis yang masuk islam. seperti Dr. Abdul Karim Germanus (dulu bernama Julius Germanus) (1884-1979) adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia.


Daftar Pustaka
• Tabloid Online Sumenep
• http://www.kaorinusantara.web.id/
• E-book Al-islam chm
• Hamka, Studi Islam,1985
• http://www.insistnet.com
• Dr. As’ad Al-Sahmaraniy. Al-Tasawuf Mansyauhu wa Mushtalahatuhu. 2000
• Dr. M. Qadari Ahdal. Wawancara dengan Sepuluh Tokoh Orientalis. 1991.
• http://orientalismehukumislam.blogspot.com
• http://islamlib.com/
• http://www.inpasonline.com/

Monday, September 13, 2010

sehat alami dan islami 1


Hampir setiap pagi keluarga saya selalu menyaksikan acara bengkel hati di tpi yang dibawakan oleh ustad danu. Di acara itu kita bias mendapatkan solusi dari penyakit yang kita derita tanpa bantuan obat obatan, solusinya hanya satu yaitu memperbaiki akhlak kita dengan allah dan dengan makhluk. Memang selama ini kita menganggap bahwa penyakit yang kita derita adalah berasal dari makanan yang kita makan atau sebab lain dari luar.
Memang benar bahwa menurut riwayat rosulullah selalu menjaga makanannya sehingga dalam seumur hidupnya beliau tidak pernah sakit. Menurut ustadz Abdullah Mahmud rasulullah tidak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari hari. Karena rosulullah melakukan diet yang membuat apa yang beliau makan bias menjadikan manfaat positif bagi tubuh. Dari artikel yang saya baca dari majalah derap guru punya ibu saya, saya dapat melihat bahwa rosulullah :
- tidak minum susu bersama daging
- tidak makan daging bersama ikan
- tidak makan ikan bersama susu
- tidak makan ayam bersama susu
- tidak makan ikan bersama telur
- tidak makan ikan bersama daun salad
- tidak minum susu bersama cuka
- tidak makan buah bersama susu
- sesekali jangan makan malam
- jangan makan buah setelah makan nasi, tapi makanlah buah sebelum makan nasi
kita tidak boleh makan makanan darat bercampur dengan makanan laut karena menurut penelitian daging ayam mengandung ion+, sedangkan ikan mengandung ion -, sehingga jika dimakan bersamaan akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat merusak usus kita. Sebagaimana aliran listrik yang mengalir dari ion positif ke ion negative.
Selain itu rosul juga sering minum air sejuk setiap pagi tapi bukan air es karena di arab dulu tidak ada kulkas. Dan juga ketika sholat rosulullah sujud dengan waktu yang lama, hal ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan beberapa millimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang dipenuhi darah hanya ketika kita melakukan sujud. Dan juga ketika makan rosulullah selalu menggunakan jari dan menjilati jarinya, karena menurut ilmuwan bahwa enzim yang terdapat di celah jari 10 kali lebih banyak dari enzimyang terdapat dalam air liur. Seperti yang kita ketahui rosulullah juga sering melakukan puasa, karena sebagaimana sabda beliau bahwa puasa itu menyehatkan, bukan hanya jasmani tetapi juga rohani. Rata Penuh

Wednesday, July 21, 2010

PERSPEKTIF UMAT ISLAM DALAM MENERIMA INFORMASI BARU


PERSPEKTIF UMAT ISLAM DALAM MENERIMA INFORMASI BARU
aris kurniawan
Sering kita mendengar ungkapan ‘Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan’. Dan kata kata ini seringkali diungkapkan oleh orang kita anggap lebih pintar dari kita. Tetapi benarkah hal ini dibolehkan dalam agama islam, karena tidak jarang seseorang yang kita anggap lebih baik agamanya justru melakukan sesuatu yang berlawanan dengan alquran atau hadis. Bukan karena tidak tahu atau sengaja, tetapi mungkin karena apa yang mereka maksudkan sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang ditangkap oleh pendengar, karena perbedaan persepsi atau sudut pandang, juga ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Tapi jika menerima sesuatu tanpa melihat pemberinya tetap dilakukan, maka generasi berikutnya pasti akan terjerumus dalam kesesatan karena melakukan taqlid terhadap orang lain. Karena memang nilai benar dan salah itu sangat sulit untuk diterapkan dalam berbagai sudut pandang, karena kita tidak boleh memandang dari satu sisi maka nilai benar dan salah pun menjadi terbagi sesuai sisi sisi itu. Tetapi apakah islam tidak mempunyai standar baku tentang nilai benar dan salah itu.
Jika kita menilik alquran dan hadis maka jelas bahwa keduanya merupakan sumber kebenaran hanya saja tanggapan, persepsi, atau pemehaman orang terhadap keduanya akan menghasilkan hal yang berbeda-beda. Pemahaman mahasiswa terhadap kata “iqra” tentu berbeda dengan pemahaman dosen terahdap kata tersebut. Tetapi meskipun begitu tetap ada benang merah yang menjadi persepsi yang paling benar dari persepsi yang lain.
Mengenai pernyataan “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan” jika diterapkan dalam masalah selain agama mungkin tidak apa apa, tetapi jika diterapkan dalam kehidupan beragama maka ungkapan ini harus dilihat dari sisi yang berbeda yaitu persepsi syariat islam atau dipersempit jangkauannya.
Pernah diceritakan bahwa perawi hadis Al-Bukhari pernah tidak menshahihkan sebuah hadis hanya karena perawi hadis itu memperlakukan hewan piaraannya dengan tidak baik. Dan dalam agama islam seorang saksi haruslah orang yang sudah mumayyiz. Dalam muqaddimah Shahih Bukhari dijelaskan bahwa Seorang Tabi’in yang bernama Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullah berkata, “Mereka (yakni para ulama hadits) tadinya tidak menanyakan tentang sanad tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkan kepada kami nama rawi-rawimu, bila dilihat yang menyampaikannya Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya ahlul bid’ah, maka haditsnya ditolak.”
Hal ini terbukti dalam periwayatan hadis bahwa hadis yang paling kuat adalah hadis yang mutawatir, yang salah satu syaratnya adalah rawi-rawinya (periwayat hadis) tsiqat dan mengerti terhadap apa yang dikabarkan dan (menyampaikannya) dengan kalimat pasti. Dan kualitas sebuah hadis bisa berkurang karena perawinya kurang dhabit atau kurang kuat hafalannya. Selain itu Abdullah bin al-Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullah pernah berkata: “ Sanad itu termasuk dari agama, kalau seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia inginkan"
Melihat beberapa hal diatas maka ungkapan untuk hanya melihat apa yang dikatakan kiranya perlu dibatasi dalam koridor tertentu, karena dari satu hal terdapat banyak sisi untuk dilihat, dan tentu saja umat islam tidak bisa hidup tanpa umat yang lain, entah itu Kristen, hindu, yahudi, budha, atau yang tidak beragama sekalipun. Karena tidak jarang ilmu mengenai dunia didapatkan oleh orang non islam, sebagaiman teknologi yang sekarang berkembang pesat saat ini dipegang oleh orang non islam dan orang islam rata rata hanya menjadi konsumen saja.
Sadar atau tidak ketika itu umat islam sedang mengambil sesuatu tanpa melihat dari mana sesuatu berasal. Bahkan dalam hal agama pun tidak ketinggalan karena memang mudah terpengaruh itu merupakan sifat manusia ketika menginginkan sesuatu. Bahkan perkembangan barat pun diawali karena pengaruh islam yang sedang berkembang. Dan pertanyaannya apakah umat islam sekarang baru bisa berkembang jika mengambil pengaruh dari kelompok yang berkembang.
Semoga saja umat islam belum kehilangan kreatifitasnya hanya karena mengutamakan kehidupan akhirat dan mengesampingkan kehidupan dunia, semoga saja umat islam tidak sibuk berdzikir untuk keselamatan pribadinya di akhirat hingga melupakan kewajibannya sebagai khalifah dibumi, semoga saja umat islam tidak hanya sibuk mengurusi masalah sepele seperti ikhtilaf ulama fiqih, karena fiqih hanya merupakan pendapat dan pemahaman seseorang terhadap nash, dan melupakan masalah yang besar yaitu kesatuan umat islam. Dan semoga saja umat islam tidak sibuk berkumpul tetapi hanya menjadi seperti buih di lautan yang tidak mempunyai kekuatan. Wallahu a’lam. (Arisk)

DIFFERENCE AMONG ENGLISH TEXT AND ENGLISH LANGUAGE TEXT


DIFFERENCE AMONG ENGLISH TEXT AND ENGLISH LANGUAGE TEXT
Written by: Aris Kurniawan

Have you ever realize that a text or an article in every language has their own characteristic. And this made a text can’t be translated directly into other languages. This is one of problem when we write text in English language, because we are Indonesian. So we have to change a lot of things to become an English writer whom write truly English text, not just a text in English language which been translated from Indonesian language.
In practice progress I often see a lot of text which written by Indonesian, and when I compare it with a text from English people, I can see some difference among both. And when I read some books about English text writing, I found it clearly. And I knew this is often happened in Indonesian English text.
Every language has their own grammatical rules and syntax, which is different to the other languages. Even some languages has some specific vocabularies which doesn’t present in the other language to divine. Indonesian and English languages had been so different, so when the making of English text, someone cannot use Indonesian grammatical and syntax, and also at the making of Indonesian text in otherwise.
In my sight English grammatical is more appreciate in time form, but in Indonesian some sentence had been relative, so a sentence could have a lot of meaning. Because some word in Indonesia had a same form between noun and verb.
In English writing Ivanic said “writing is not just about conveying “content” but also about the representation of self. Who we are affects how we write, whatever we are writing.” When someone write their subjectivity are often belonged to the text, because in some of writing activities the writer are often inserting their opinion. So when we write in English language we have to think like an English writer completely. It is related to Rahmah statement in her book “learning and teaching English is like entering a new world.” Yes the English people world with their cultures, languages, and also their thinking way. And the other side we have to leave the Indonesian literacy which is could shape and influence the writing process.
When write English text peoples have to take a different point of view. Because a text sometimes came from a simple idea which is creatively wrote. As Kroll state that writing is an intellectual activity in which learning to create written products is that demonstrates mastery over contextually appropriate formats for the rhetorical presentation of ideas as well as mastery in all areas of language. And according to Rohmah opinion that writing is not only linguistic and technical matter, but writing also involves an interplay between writing and identity. So a good writing is not only about grammatical rules and sentences arrangement but also the social context. Where the writer and reader positions present. So the text is can be understood, because writing is a social connection.
When some one writes actually they are communicating with the readers in indirect form. But readers are often doesn’t realize if they are communicating with the writers. So for making of good text is needed orientation, reader or writer orientation. And when explain something have to see who is the reader beside above rules.
The difference among English and Indonesian writers is also at the way of writing and describing the topic. Robert B. Kaplan said “oriental cultures (Asian) write in a circular way and western culture write in a linear fashion, and that rhetorical repertoires are culture specific.” We have to pay a lot of attention about this, because English have their own way to describe something, especially on the text.

Potensi ekonomi pondok pesantren


Potensi ekonomi pondok pesantren
aris kurniawan
Akhir akhir ini banyak badan usaha yang dikelola oleh sebuah pondok pesantren. Dan badan usaha itu sekarang tidak hanya melayani kebutuhan santri saja, tetapi lebih luas lagi yaitu melayani kebutuhan umum dan lingkupnya pun semakin luas. Kondisi ini merupakan suatu kemajauan yang dicapai oleh pondok pesantren dimana pesantren tidak hanya mengurusi masalah akhirat saja.
Pondok pesantren tang mempunyai ribuan santri tentunya memiliki perputaran uang yang banyak di lingkungan pondoknya saja, karena uang kiriman dari berbagai wilayah masuk dan berputar disitu. Apalagi jika terdapat badan usaha seperti industri kecil ataupun mini market tentunya omzetnya tinggal mengalikan dengan jumlah santrinya saja, karena di lingkungan pondok para santri dilarang membeli diluar area pondok. Selain karena alasan keamanan alasan finansialpun juga tidak ketinggalan. Untuk itu setiap pondok pesantren pasti mengatur system ekonominya dengan system tertutup dan cenderung monopoli.
Memang system monopoli sebenarnya dilarang dalam islam, tetapi jika system seperti ini tidak diterapkan maka pondok itu aan menjadi pasar. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa kebijakan monopoli seharusnya tidak membuat harga komoditi menjadi lebih tinggi dari harga pasaran, sehingga tidak terkesan bahwa pondok menjadikan santrinya sebagai ajang bisnis. Karena diakui atau tidak santri merupakan pasar yang sangat mudah dikendalikan, tidak seperti di dunia luar.
Seharusnya system perekonomian di pondok mendukung santrinya untuk hemat dan mempunyai kecerdasan financial, yang nantinya berguna bagi kehidupannya setelah lulus dari pondok. Para santri seharusnya diajarkan bagaimana menghasilkan uang, bukan hanya diberikan sugesti tentang cara menghabiskan uang sakunya. Karena dari perilaku yang saya amati kebanyakan santri mempunyai sifat konsumtif yang tinggi, mungkin karena memang ada anggapan bahwa sudah sewajarnya anak anak setingkat SMP atau SMA menghabiskan beberapa ribu setiap hari untuk jajan. Tetapi apakah wajar jika harga yang diterapkan lebih mahal 10 sampai 30 persen dari harga pasaran. Bukankah kesederhanaan merupakan asas pondok pesantren itu
Seharusnya ada upaya dari pondok pesantren untuk menekan biaya konsumsi santrinya. Saya rasa wajar jika sebuah pesantren mempunyai fasilitas air minum yang didistribusikan melalui pipa dan dapat diakses di banyak tempat, bukan hanya air satu gallon atau beberapa teko di dapur. Karena kita lihat di tempat wisata di masjid Ampel Surabaya atau di Makam KH. Kholil bangkalan terdapat air minum gratis yang melimpah. Karena mungkin tidak banyak yang tahu bahwa air dari kran masjid biasa dikonsumsi langsung oleh santri.
Pondok pesantren dengan potensi SDM yang melimpah seharusnya bisa menjadikan badan usaha yang mampu bersaing di masyarakat umum, dengan memproduksi barang yang berkualitas dengan harga jual yang terjangkau. Karena bukankah pengabdian kepada masyarakat adalah prinsip yang dipegang teguh oleh pesantren. Kita bsa melihat Pondok Sidogiri yang mempunyai perusahaan air minum yang besar dan mempunyai Mini market yang tersebar di berbagai wilayah bahkan di Madura sendiri.
dari sekian pondok pesantren yang bertaraf nasional di madura apakah tidak ada yang mampu menciptakan sebuah industri yang bisa menyerap tenaga kerja dari masyarakat dan bisa menghasilkan produk yang murah dan berkualitas. Apakah membantu umat islam dari segi ekonomi itu tidak masuk dalam agenda pondok pesantren. Wallahu A’lam

Ego dan Moralitas


Ego dan Moralitas
aris kurniawan
I. Pendahuluan
Pemikiran manusia selalu mengalami perkembangan karena rasa ingin tahu manusia yang tidak terbatas. Manusia memikirkan berbagai hal untuk mencapai kemakmuran dalam hidupnya. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain, tetapi dalam hubungannya dengan orang lain itu terkadang bahkan sering timbul masalah. Sehingga manusia mulai memikirkan bagaimana agar kehidupan bermasyarakat mereka menjadi lebih baik.
Perkembanganpemikiran manusia mengalami beberapa tahap perkembangan dari hal hal yang dekat hingga hal yang terjauh, dan perkembangan ini tidak berhenti hingga sekarang dan telah merubah berbagai macam hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
Salah satu bentuk pemikiran mereka mengenai kehidupan bermasyarakat ini tertuang dalam filsafat moral yang membahas berbagai bentuk sifat manusia guna menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Dan dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai ego dan moralitas.
II. Pembahasan
Filsafat moral merupakan cabang filsafat yang berawal dari filsafat yunani yang dimulai dengan filsafat alam, yaitu ketika manusia mempertanyakan tentang alam disekitarnya. Yang kemudian dilanjutkan dengan filsafat manusia, yang pembahasannya berkembang dari konteks keberadaannya dan mulai mempertanyakan bagaimana manusia harus hidup agar hidupnya menjadi lebih baik.
Sebagai filsafat, etika bertanya tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang yang baik dan yang buruk untuk dilakukan.
Secara etimologis etika berasal dari kata ‘ethos’(yunani) = adapt kebiasaan; cara bertindak. Sedangkan sebagai ilmu filsafat moral adalah refleksi kritis, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia.
Sifat fisiologisnya : melampaui data daktual. Bertanya tentang yang harus dan tidak boleh, yang baik dan yang buruk.
Dalam moral terkandung juga masalah etika yang dibagi menjadi dua yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Etika normatif mencakup etika umum (prinsip moral dasar) dan etika khusus (etika terapan). Etika beerfungsi untuk memberi orientasi kritis dan rasional dalam menghadapi pluralisme moral, yang diakibatkan oleh adanya aneka pandangan moral, gelombang modernisasi, dan munculnya bebagai ideologi.
Tugas pokok etika adalah mempelajari norma-norma yang dianggap berlaku, mempersoalkan hak dari setiap lembaga normatif, dan mengarahkan orang untuk kritis dan rasional, percaya pada diri sendiri, bertindak sesuai yang dapat dipertanggung jawabkan secara moral.
Etika merupakan sebuah refleksi kritis dan rasional tentang nilai, ajaran dan pandangan-pandangan moral Sebuah refleksi kritis dan rasional Moralitas adalah seuah ajaran, sedangkan etika adalah sebuah ilmu (ilmu tentang moralitas)
Moralitas merupakan sistem nilai, tradisi kepercayaan dalam agama dan kepercayaan, yang terkandung dalam ajaran yang diwariskan secara turun temurun yang berfungsi sebagai petunjuk konkrit menusia dalam menjalankan hidupnya
Secara khusus etika diperlukan untuk dua hal berikut mengatasi interpretasi yang berbeda-beda atas ajaran-ajaran moral yang termuat dalam wahyu dan membantu pemecahan masalah-masalah moral yang baru muncul kemudian yang tidak secara langsung disinggung dalam wahyu
Moral juga mempunyai sistem nilai sendiri yang terdiri dari bermacam-macam nilai. Nilai moral sebagai nilai paling tinggi berkaitan dengan beberapa hal yaitu tanggung jawab, berkaitan tuntutan hati nurani, mewajibkan secara mutlak, perlu diterapkan pada nilai-nilai (umum).
Sifat-sifat khas norma moral
Kemutlakan norma moral .
Pandangan dan praktek etis yang berbeda-beda dalam pelbagai kebudayaan dapat menimbulkan relativisme moral. Akan tetapi relativisme ini tidak taham uji karena beberapa konsekuensi berikut:
• Tidak mengakui perbedaan mutu etis antara berbagai kebudayaan
• Tolak ukur penilaian etis bagi perilaku siatu masyarakat hanya berdasarkan kaidah-kaidah moral (budaya, kebiasaan) masyarakat itu.
• Tidak mungkin terjadi kemajuan dalam bidang moral
Objektivitas norma moral
• Ada sifat subjektivitas norma moral
• Nilai dan norma moral tidak ditentukan oelh selera pribadi
• Dapat dilakukan diskusi / dialog mengenai norma-norma moral
• Objektivitas norma moral tidak menghapus kebebasan
Universalitas norma moral
• kalu absolut maka harus universal, berlakuu selalu dan dimana-mana
• mendapat tantangan dari etika situasi
• etika situasi dalam bentuk ekstrim tidak tahan uji
Ego Manusia
Struktur kepribadian manusia menurut sigmund freud
• Id(Es) : ang bawah sadar
• Super ego / ideal ego (Uberic/Idealich) : ambang kesadaran
• Ego (Ich) : ruang dan puncak kesadaran (unsur rasionalitas / menegerti ada pada lapisan ego)
Kesadaran moral : untutan super ego dan terutama keterbuakaan ego terhadap seluruh realitas dengan segala nilai-nilainya.
Kebebasan dan tanggung jawab
Pengertian kebebasasan
Kemampuan menentuan diri sendiri tanpa dihalangi oleh pihak lain
Dua bentuk kebebasan
1.Kebebasan eksistensial : bebas untuk menentukan diri snediri ( sifatnya positif = bebas untuk ...) jenis:
kebebasan jasmani : bebas bergerak secara fisik.
kebebasan rohano : Bebas berfikir dan menghendaki sesuatu.
keduanya saling berhubungan.
Makna kebebasan eksistensial
Mampu mewujudkan apa yang dikehendakinya.
Dapat menentukan tindakannya sendiri dan apa yang mau diperbuatnya.
Dapat memilih antara berbagai kemungkinan yang terbuka baginya.
Mampu menentukan dirinya sendiri (otonom).
Sebagai ungkapan martabat manusia.
2. Kebebasan sosial :Bebas dari hambatan dri pihak lain ( sifatnya negatif = bebas dari ...) Jenisnya :
Kebebasan jasmani : kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi oleh paksaan fisik.
Kebebasan rohani : tidak mengalami tekanan atu ancaman.
Kebebasan normatif : tidak berada dibawah suatu aturan (norma).
Pembatasan kebebasan
Secara jasmani : dengan paksaan fisik, secara rohani : dengan tekanan, secara normatif : dengan aturan.
Pembatasan secara fisik dan psikis : meniadakan kebebasan ekstensial.
Pembatasan secara normatif: tetap menghargai kebebbasan ekstensial manusia (pembatasan wajar).
Alasan pembatasan normatif ini :
• Hak atas kebebasan yang sama
• Kepentingan bersama
Untuk menguatkan norma : perlu ada sanksi (hukum).
Sanksi yang dapat diambil : tindakan fisik (atau materi).
Manipulasi psikis (tekanan, ancaman, hasutan) tidak dibenarkan, karena merusak manusia dari dalam.

Kebebasan eksensial dan tanggung jawab
Kebebasan sosial berarti bahwa masyarakat meyediakan ruang gerak bagi kebebasan ekstensial kita.
Kebebasan ekstensial berarti bahwa kita mengisi ruang itu ( dengan sikap dan tindakan) yang bertanggung jawab.
Kita perlu terutama : tidak merusak hak da kebahagiaan orang lain(negatif) melaksanakan kewajiban serta apa yang diharapkan dari kita (positif).
Makin bertanggung jawab makin bebas
Melaksanakan tanggung jawab atau kewajiban objektif = mmebuat tidak bebas ?
Menolak bertanggung jawab berarti menolak melakukan apa yang sudah dia sadari sebagai yang baik, yang bernilai dan sekaligus yang harus dia lakukan
Mengapa orang menolak tanggung jawab ? karena dia tidak mampu melepaskan diri dari segala hambatan yang membelengunya.
Menolak bertangung jawab tidaklah mmebuat orang lebih bebas. Kebebasan justru semakin menemukan dirinya dalam bertanggung jawab.