connect:

Thursday, September 30, 2010

makalah orientalisme


Kontribusi Orientalisme Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Oleh: Aris Kurniawan
(Mahasiswa Fakultas Dakwah Semester V Asal Pekalongan Jawa Tengah)

I. Pendahuluan
Ketika mendengar kata orientalis atau orientalisme mungkin yang pertama kali terlintas di benak kita adalah usaha-usaha dari orang orang barat non islam yang mencoba untuk merusak dan memutarbalikkan ajaran ajaran islam, bahkan yang bersifat fundamental. Hal ini tentu bukan hal yang asing mengingat banyaknya kaum orientalis yang menerbitkan karya yang kontroversial bagi orang islam, bahkan sebagian dianggap telah melecehkan umat islam, entah karena pendapat mereka terhadap agama islam, atau karena pandangan mereka terhadap tokoh tokoh islam.
Perkembangan orientalisme di dunia barat tergolong cukup pesat, mengingat banyaknya ilmuan yang rela mengabdikan dirinya untuk mempelajari peradaban timur. Hal ini bias saja direspon secara positif ataupun negative oleh umat islam sendiri. Respon negatif dari umat islam bisa muncul karena kajian yang dilakukan oleh para orientalis dinilai telah menghasilkan teori yang bertentangan dengan keyakinan umat islam terhadap peradaban islam, bahkan terhadap ajaran islam. Bukan hanya itu saja umat islam juga menganggap hal yang dilakukan para orientalis tersebut mempunyai motifasi motifasi tertentu untuk merusak ajaran agama islam. Sedangkan respon positif muncul karena ada sebagian orientalis yang mempelajari ajaran islam kemudian memeluk islam, karena menemukan kebenaran dalam agama islam. Dan juga para orientalis dinilai menghasilkan karya dengan pandangan yang objektif terhadap peradaban islam dan juga ajaran islam, karena orientasi mereka hanya semata-mata untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Memang para orientalis telah mempelajari agama islam dari sudut pandang mereka, meskipun beberapa kajian para orientalis dianggap objektif, tetapi subjektifitas seseorang tidak bias lepas begitu saja dari pendapat yang ia keluarkan, karena subjektifitas merupakan landasan berpikir dari seseorang. Meskipun begitu karya orientalis itu mempunyai kontribusi yang besar bagi perkembangan pemikiran umat islam. Karena jika muncul pendapat yang dinilai negative dari para orientalis, tentu umat islam tidak akan tinggal diam dan akan membuktikan kepada mereka bahwa teori mereka telah salah.
II. Pembahasan
Setiap hal yang dilakukan seseorang tentu mempunyai manfaat yang dapat kita ambil sebagai pelajaran, entah yang mereka lakukan itu kita anggap sebagai hal yang salah ataupun hal yang benar. Karena menurut saya segala sesuatu yang ada didunia ini saling berhubungan, berkaitan dan saling berpengaruh. Satu hal kecil yang dilakukan seseorang akan menimbulkan efek kepada orang lain.
Hal ini juga yang terjadi ketika para orientalis mulai mempelajari ajaran islam dan kemudian menghasilkan berbagai karya dari penelitian mereka. Bagi saya bukanlah hal yang aneh ketika orang orang barat berbondong-bondong untuk mempelajari peradaban islam, karena sebelum mereka mengenal ilmu pengetahuan, umat islam sudah mencapai masa keemasan dari peradaban mereka, dan hingga kini para orientalis masih melakukan kajian terhadap peradaban islam.
Sebelum melangkah lebih jauh perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan orientalis ataupun orientalisme dan mengapa mereka begitu kontroversial di kalangan umat islam.
1. Pengertian
Orientalisme itu sendiri sebenarnya istilah atau sebutan bagi orang-orang Kristen Eropa (orang Barat) yang mengkaji bahasa, kebudayaan dan segala sesuatu yang berkenaan dengan bangsa-bangsa timur. Orangnya lalu disebut sebagai orientalis.
Namun dalam prakteknya, ternyata studi orang Kristen Barat itu malah lebih mengkhususkan pada ajaran Islam. Terutama soal bahasa Arab dan Al-Qur’an yang merupakan sumber hukum umat Islam. Karenanya kemudian, seperti kata Umar Farrukh dalam Al-Islam wa-’l-Mustasyiriquun, bila dibilang orientalis maka berarti orang Barat non-Muslim yang mengkaji dan ahli dalam bidang ilmu Islam. Orientalis itu memang bukan orang Islam, tapi jago dalam berbahasa Arab atau ilmu-ilmu Islam.
Menurut DR. Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Madinah, orientalisme didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bersumber dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).
Menurut Edward Said ada tiga definisi yang komprehensif dan saling terkait mengenai orientalisme.
Pertama, yang lebih bersifat akademis, orientalisme adalah sebuah tradisi akademis. Definisi ini mengacu kepada lembaga-lembaga dan sarjana yang mempelajari Timur dan menghasilkan serangkaian tesis, bahkan doktrin dan dogma mengenainya.
Kedua, definisi yang lebih umum, orientalisme adalah corak pemikiran (style of thought) yang didasarkan kepada distingsi epistemologis yang dibuat antara Timur dan Barat. Dalam corak pemikiran ini, Timur dipandang sebagai ‘yang lain’ (the other), yang karenanya kemudian Barat bisa ‘diadakan’. Begitulah, sejumlah besar penulis (penyair, novelis, filosof, teoretikus politik, ekonom, dan sebagainya) menerima distingsi pokok anara Timur dan Barat sebagai titik tolak untuk menyusun berbagai teori, epic, novel, deskripsi sosial, dan paparan politik mengenai Timur.
Dan ketiga, definisi yang lebih bercorak historis dan materialis, orientalisme adalah jenis pengetahuan Barat yang bertujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangakan kekuasaan atas Timur. Definisi ini dirumuskan Edward Said berdasarkan gagasan Michael Foucault mengenai wacana (discourse).

2. Sejarah Singkat
Menurut para pengamat menentukan secara pasti awal kemunculan orientalisme sangatlah sulit. Tetapi sebagian sejarawan cenderung bahwa orientalisme bermula dari zaman daulah islamiah di Andalusia. Sebagian lain mengatakan bahwa organisasi ini bermula ketika terjadi Perang Salib. Khusus tentang Orientalisme Ketuhanan keberadaannya sudah tampak secara resmi sejak dikeluarkannya keputusan Konsili Gereja Viena tahun 1312 M dgn memasukkan materi bahasa Arab ke berbagai Universitas di Eropa. Orientalisme muncul di Eropa pada penghujung abad 18 M. Pertama kali muncul di Inggris tahun 1779 M; di Prancis tahun 1799. Dan setelah itu semakin berkembang hingga sanggup mengadakan muktamar tahunan Hingga sekarang tidak kurang dari 30 kali muktamar tingkat internasional telah diselenggarakan belum lagi berupa diskusi seminar dan pertemuan-pertemuan yg bersifat regional seperti muktamar orientalis Jerman yg diselenggarakan di kota Dresden Jerman Barat tahun 1849 M. Sampai sekarang muktamar seperti itu masih tetap berlangsung. Dalam kegiatan itu hadir ratusan ilmuwan orientalis. Dalam muktamar Oxford misalnya telah hadir tidak kurang dari 900 ilmuwan dari 25 negara 80 universitas dan 69 lembaga ilmiah.
3. Kontribusi Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Memang tidak semua karya orientalis membuat pandangan yang miring terhadap agama islam atau menyatakan bahwa sesuatu yang selama ini diyakini oleh orang islam akan kebenarannya kemudian disalahkan oleh penelitian yang kaum orientalis lakukan. Prof. Hamka menyebutkan, bahwa ada tiga tujuan orientalisme di dunia Islam, yaitu (1) Untuk penyebaran agama Kristen ke negeri-negeri Islam, (2) Untuk kepentingan penjajahan, (3) Untuk kepentingan ilmu pengetahuan semata.
Sebuah kajian yang sangat kritis dan serius tentang kajian orientalisme dalam studi Islam baru-baru ini dibahas dalam Jurnal ISLAMIA Vol II/3. Dalam tulisannya, Hamid Fahmy Zarkasyi menunjukkan, bahwa betapa pun halusnya, ada saja kekeliruan orientalis dalam melakukan studi terhadap Islam. Montgomery Watt, misalnya, yang selama ini dianggap orientais moderat, ketika menulis tentang Al-Quran dan hadits, ia juga meragukan otentisitas ajaran Islam. Ia mencoba membuktikan, bahwa bagian Al-Quran dan hadits adalah dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karena itu tidak dapat dijadikan sebagai sumber pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya ayat-ayat setan dalam Al-Quran. (Muhammad at Mecca, 1960, 103).
Dengan kata lain karya dari Montgomery tersebut telah menggugah umat islam untuk meneliti lebih jauh tentang peradaban islam sendiri dan memilah milah mana yang fakta dan mana yang opini. Dan berusaha untuk melawan teori yang dikemukakan oleh para orientalis dengan argument yang dapat mereka terima bukan dengan alquran atau hadis. Dan juga tidak hanya mengkritisi karya karya orientalis dari sudut pandang orang islam sendiri, atau hanya menyatakan bahwa apa yang mereka kemukakan itu salah tetapi juga mampu membuktikannya. Hal ini bias kita lihat dari banyaknya orang islam yang menjadi kristolog untuk kemudian mengemukakan argument berdasarkan agama mereka. Hal ini kelihatannya bukan lagi menjadi masalah ilmu pengetahuan saja tetapi juga masalah persaingan agama.
Tetapi banyak juga teori dari para orientalis yang dianggap cukup obyektif salah satunya adalah yang diambil oleh Qosim Nursheha Dzulhadi yang menyatakan bahwa tasawuf murni berasal dari agama islam dengan argument yang dikemukakan oleh, Nicholson. Ia berkata; ''Kita tidak melihat dari perkataan para Sufi yang zuhud, seperti Ibrahim bin Adham (w. 161 H), Daud al-Thâ'iy (w. 165 H), Fudhail bin 'Iyâdh (w. 187 H), Syaqîq al-Balkhiy (w. 194 H), yang menunjukkan bahwa mereka terpengaruh oleh Kristianitas atau dengan sumber-sumber asing yang lainnya, kecuali hanya sedikit sekali. Dengan kata lain, tampak jelas bagi kita bahwa jenis ini
(Sufisme Islam) adalah –setidaknya ada kemungkinan—lahir dari gerakan Islam
itu sendiri. Ia merupakan produk yang lazim dari pemikiran Islam yang
berasal dari Allah.''
Dalam bidang sufisme islam para orientalis mempunyai kontribusi yang sangat besar. Menurut Dr. Adil Al-Alusiy, Nicholson telah menulis sebuah studi yang cukup berharga tentang pengaruh pengaruh asing dalam sufisme islam dan juga diskusinya mengenai masalah masalah penting sufisme ketika menganalisa konsep wahdatul wujud menurut al-hallaj, ibnu Faridh dan juga Ibnu Arabi.
Selain itu para orientalis juga banyak melakukan verifikasi tentang literature sufisme seperti verifikasi L. Masignon atas Rasa’il Al-Hallaj yang ditulis oleh Abu Mughits Husain bin Mansyur. Kemudian J Von Hammer yang menerjemahkan buku Al-Taiyah al-Kubra karya Ibnu Faridh ke dalam syair.
Hal tersebut seharusnya menggugah umat islam untuk bias berbuat lebih baik dan lebih kritis daripada yang dilakukan oleh para orientalis. Dan juga umat islam tidak boleh lengah apalagi merasa terbantu. Karena itu umat islam harus mengkritisi kontribusi mereka. Karena sebagaimana kajian Dr. Luthil (Dekan Islamic Studies. Universitas Mc. Gill, Canada), beliau menyatakan bahwa tidak semua kaum sufi itu masuk dalam bingkai islam, bahkan diantara mereka ada yang amat berlebih lebihan yang digolongkan kafir (dikafirkan) oleh sebagian umat islam.
Kemudian dalam bidang hokum islam para orientalis juga banyak melakukan kajian bahkan sejak zaman Ignaz Goldziher (1855-1921), David Santillana (1855-1931), dan Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) hingga masa keemasan Joseph Schacht (1902-1969), yang ternama karena studi-studi hukum Islamnya, hukum Islam telah banyak dikaji di Barat.
Kemudian bagaimana dengan umat islam itu sendiri seharusnya mereka lebih banyak dan lebih lama melakukan kajian terhadap hokum islam dan menghasilkan hokum yang lebih sesuai dengan ajaran islam daripada kajian yang dilakukan oleh para orientalis.
Memang pernah ada anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan umat islam hanya cukup dengan apa yang telah ada pada zaman rosul dan sahabat. Padahal jika ditelusuri, maka pendapat umum bahwa pintu ijtihad telah tertutup sesungguhnya tidak lepas dari kontribusi ilmiah para orientalis generasi pertama seperti Ignaz Goldziher dan Snouck Hurgronje. Tetapi Joseph Schacht-lah kemudian yang banyak sekali menyebut dan mempopulerkan pandangan ini dalam karya monograph-nya seperti ¬The Origin of Muhammadan Jurisprudence dan The Introduction to Islamic Law, maupun karya-karya essay lainnya.
Karena banyaknya karya para orientalis kemudian muncul perlawanan dari umat islam sendiri. Perjuangan melawan para orientalis itu timbul pada suatu perspektif baru oleh Edward Said dalam bukunya tentang Orientalism. Dia terutama tertarik kepada "orientalisme modern" yang mulai ke arah akhir abad ke delapan belas.
III. Kesimpulan
Ada banyak efek yang ditimbulkan dari kajian yang dilakukan para orientalis. Entah itu negative ataupun positif. Tetapi menurut saya para orientalis itu telah menimbulkan semangat dari umat islam untuk lebih mencintai agamanya dan juga menyaring informasi yang masuk dengan lebih teliti. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ulil Abshar Abdalla “Kawan, surat Anda tentang peran orientalis dalam pengkajian Islam sangat baik. Poin yang perlu ditambahkan kepada ulasan Anda adalah: jika umat Islam merasa keberatan dengan studi-studi orang barat atas “dunia timur”, maka ada baiknya orang Islam melakukan “orientalisme terbalik”, yakni timur melakukan kajian atas barat. Dengan demikian akan terjadi proses belajar yang saling memperkaya antara wetan dan kulon.
Kemudian kita perlu bertanya mengapa para orientalis itu mempelajari agama dan peradaban islam dengan sungguh sungguh. Bias jadi ada banyak motifasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Hamka. Wilfred Cantwell Smith telah menulis: Pengamatan saya pada studi Ketimuran dan sedikit tentang Afrika lebih dari dua puluh tahun, bahwa kekurangan dan cacat mendasar peradaban Barat dalam peranannya di dunia sejarah adalah arogansi (kesombongan), dan sikap ini juga telah mempengaruhi sikap Gereja Kristen. Mungkin hal ini juga menjadi latar belakang mereka dan juga sebagaimana yang kita ketahui bahwa ajaran agama Kristen juga bermasalah sehingga terpecah menjadi dua.
Selain itu banyak juga yang memang mencari kebenaran tentang agama islam. Hal ini bias dilihat dari beberapa orientalis yang masuk islam. seperti Dr. Abdul Karim Germanus (dulu bernama Julius Germanus) (1884-1979) adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia.


Daftar Pustaka
• Tabloid Online Sumenep
• http://www.kaorinusantara.web.id/
• E-book Al-islam chm
• Hamka, Studi Islam,1985
• http://www.insistnet.com
• Dr. As’ad Al-Sahmaraniy. Al-Tasawuf Mansyauhu wa Mushtalahatuhu. 2000
• Dr. M. Qadari Ahdal. Wawancara dengan Sepuluh Tokoh Orientalis. 1991.
• http://orientalismehukumislam.blogspot.com
• http://islamlib.com/
• http://www.inpasonline.com/

0 comments:

Post a Comment

silakan komen bozz asal sopan ,,, :-)