connect:

Latest Post

Wednesday, January 19, 2011

PROPOSAL PENELITIAN KEHIDUPAN KEBERAGAMAAN PARA USTADZ DAN MUALLIM PROGRAM INTENSIF PUTRA INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN (IDIA) PRENDUAN SUMENEP


PROPOSAL PENELITIAN
KEHIDUPAN KEBERAGAMAAN
PARA USTADZ DAN MUALLIM PROGRAM INTENSIF PUTRA
INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN (IDIA) PRENDUAN
SUMENEP MADURA
TAHUN 2010 M






Oleh : Aris Kurniawan
NIM : 200883012251
Semester : V
Fak/Jur : Dakwah/BPI

INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN (IDIA) PRENDUAN
SUMENEP MADURA
2010

PENGESAHAN

Proposal ini telah dipertahankan dihadapan dewan penguji Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Sumenep Madura dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna melaksanakan penelitian ilmiah sebagai syarat memperoleh gelar sarjana (S1) S.Sos.I pada Fakultas Dakwah Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam.
Dewan Penguji:
1. Penguji I
2. Penguji II












PROPOSAL PENELITIAN
Nama : Aris Kurniawan
NIM : 200883012251
Fakultas : Dakwah
Jurusan : Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI)
Prog. Studi : Strata I (SI)
Angkatan : 2008
Judul :
KEHIDUPAN KEBERAGAMAAN
PARA USTADZ DAN MUALLIM PROGRAM INTENSIF PUTRA
INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN (IDIA) PRENDUAN
SUMENEP MADURA
TAHUN 2010-2011 M
A. Latar Belakang
Salah satu yang membedakan manusia dengan hewan adalah agama. Agama merupakan kebutuhan manusia, karena agama itu adalah fitrah. Fitrah berarti asal kejadian yang dibawa berasal dari akar kata f-t-r dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal (wikipedia.org).
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Tidak ada anak yang dilahirkan, kecuali dilahirkan atas kesucian. Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang itu dilahirkan dengan lengkap, apakah kamu melihat binatang lahir dengan terputus (hidung, telinga, dan sebagainya)?" Kemudian Abu Hurairah membaca ayat, 'fithratallaahil-latii fatharannaasa 'alaihaa laa tabdiila likhalqillaahi dzaalikad-diinul qayyimu' 'Fitrah Allah yang Dia menciptakan manusia menurut fitah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus'." (Al-Albani, 2005:679)
Dari hadis diatas dapat kita lihat bahwa menurut agama islam, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk beragama islam, yaitu mengakui bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan mereka. Menurut Jalaludin Rahmat (Jalaludin, 2002:95) tingkah laku keagamaan seseorang timbul dari adanya dorongan dari dalam diri seseorang tersebut sebagai factor intern. Kelmudian pada perkembangaan selanjutnya, tingkah alku keagamaan dipengaruhi pula oleh pengalaman keagamaan, stuktur kepribadian serta unsure unsure kejiwaan lainnya. Artinya dorongan keagamaan itu beperan sejalan dengan kebutuhan umat manusia.
Menurut Robert Nuttin dorongan beragama merupakan salah satu doongan yang bekerja dalam diri manusia sebagaimana dorongan dorongan lainnya sepeti makan, minum, intelek, dan lain sebagainya. Sjelan dengan hal ini maka dorongan beragamapun menuntut unuk dipenuhi, sehingga pribadi manusia itu mendapat kepuasan dan ketenangan. Selain dorongan beragama merupakan kebuuhan insaniahyang umbuh dari gabungan berbagai factor penyebab yan gbersumber dai rasa keagamaan.
Ketika kita membicarakan tentang agama apalagi di wilayah Indonesia tentunya tidak lepas dari lembaga- lembaga keagamaan, yang sudah lama menyatu dengan masyarakat, seperti pesantren. Pesantren sebagai pusat perkembangan agama sudah menjadi pemahaman umum, dimana kyai merupakan figure yang menjadi panutan masyarakat dalam hal agama. Begitu juga dengan orang orang yang belajar dengan kyai di pesantren atau yang biasa disebut denga santri biasanya diidentikkan dengan kehidupan keberagamaan yang kental, keseharian yang mencerminkan nilai luhur ajaran agama islam. Karena mereka senantiasa mempelajari ajaran agama islam.
Tetapi belakangan ini muncul kasus mengenai politisasi agama. Dimana politisasi agama membuat ajaran agama akan terpangkas dari nilainya yang universal. Ajaran agama ditundukkan ke dalam kepentingan yang berdimensi temporal, lokal, atau sektarian. Agama menjadi alat kepentingan sekelompok manusia tertentu, entah itu segelintir elite penguasa, kelompok oposisi, atau kaum agamawan sendiri. (islamlib.com)
Hal ini membuat ajaran agama hanya menjadi topeng untuk menutupi kejelekan dari diri seseorang. Dan juga hanya menjadi status yang hanya tertulis atau terkenal di masyarakat tanpa ada realisasi dari ajaran agama islam itu sendiri dalam kehidupan sehari hari. Bukan hanya itu saja, malah ada tren dimasyarakat bahwa lingkungan pesantren jauh dari kebersihan dan kemodernan, dan bahkan tren yang muncul dari pendapat para praktisi di dunia pesantren, bahwa semakin lama seorang santri tinggal di pesantren maka semakin jarang ia melakukan sholat berjamaah dimasjid. Padahal sejak awal dilingkungan pondok sudah diterapkan kewajiban untuk sholat berjamaah.
Mengenai pentingnya sholat berjamaah, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauzi pernah membuat 35 pertanyaan mengenai kehidupan sehari-hari yang islami. Dan dari semua pertanyaan itu yang ditanyakan pertama kali adalah “Apakah anda selalu shalat Fajar berjama’ah di masjid setiap hari .? dan pertanyaan yang kedua adalah “Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?” ( Fariq Gasim Anuz, 2009:51).
Kedua pertanyaan tersebut tentu bukan tanpa alasan karena memang ibadah sholat adalah ibadah yang paling utama dalam agama islam sebagaimana hadis nabi yang diriwayatkan dari Muadz bin Jabal r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda, “Pokok perkara Islam dan pondasinya adalah shalat dan tulang punggungnya adalah jihad. “
Dan dalam hadis lain yang diriwayatkan dari Makhal bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia telah lepas dari jaminan Allah dan Rasul-Nya.”
Diriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Yang membedakan antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah kafir”.
Dari beberapa hadis tersebut tentunya sudah cukup untuk meyakinkan diri kita bahwa keutamaan dari sholat dalam ajaran islam adalah satu hal yang sangat fundamental.
Saya sendiri sebagai bagian dari lingkungan pesantren melihat sebuah fenomena yang janggal dimana ajaran agama seakan menjadi barang yang tidak begitu menarik lagi untuk dikerjakan dengan penuh kesadaran yang timbul dari dalam diri. Bahkan ajaran agama kelihatannya hanya sekedar formalitas terhadap aturan yang dibuat oleh manusia. Entah apakah dalam hal ini ada factor kejenuhan ataukah faktor lain yang menjadi penyebab hal ini.
Dari fenomena ini sebenarnya saya ingin untuk memaparkan kepada khalayak mengenai kehidupan keberagamaan di pesantren yang sesuai realita masa kini, bukan sekedar pendapat umum mengenai hal itu. Tetapi saya menyadari bahwa untuk memaparkan semua hal itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu saya membatasi variable dalam penelitian ini dengan memfokuskan penelitian pada ubudiyah para mualim dan ustadz IDIA dari segi kekonsistensian sholat berjamaah di masjid. Apakah kewajiban sholat berjamaah yang sudah diterapkan kepada mereka ketika mereka masih menjadi santri masih membekas dalam hati mereka dan diwujudkan dalam kesehariannya atau tidak. Maka dari itu saya menyusun beberapa focus penelitian sebagai berikut.
B. FOKUS PENELITIAN
1. Bagaimana kehidupan keberagamaan para ustadz dan mualim dalam kesehariannya
2. Bagaimana efektifitas aturan tentang kewajiban pelaksanaan sholat berjamaah semasa sebelum menjabat.
3. Bagaimana pengamalan nilai nilai ajaran islam dalam kehidupan sehari hari
4. Apakah para ustadz dan mualim rutin menjalankan sholat berjamaah di masjid ketika tidak ada yang mengawasi dari pihak atasan atau tidak ada aturan yang tertulis.
C. TUJUAN PENELITIAN
Dari beberapa rumusan masalah diatas maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui sejauh mana efektifitas aturan aturan pondok terhadap kehidupan santrinya
2. Mengetahui sejauh mana kesadaran dari para penegak aturan pondok untuk melaksanakan aturan yang mereka tegakkan
3. Mengetahui apakah atasan bisa memberi contoh yang baik bagi bawahan atau tidak
4. Membuktikan apakah pendapat mengenai, semakin lama tinggal di pesantren semakin berkurang jiwa keberagamaannya, benar atau tidak.
5. Sebagai bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan aturan di lingkungan pesantren
6. Memberikan fakta kepada masyarakat mengenai kehidupan keberagamaan di pesantren
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Dari segi akademis penelitian ini akan memberikan kontribusi bagi pengembangan dan strategi dakwah islam agar lebih memperhatikan aspek psikologis manusia sehingga di masa depan dapat menciptakan kehidupan islam yang benar benar islami. Yang ditandai dengan meningkatnya aspek ubudiyah karena aspek inilah yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang lain sekaligus sebagai syiar islam.
Dari segi praktis penelitian ini akan memberikan data yang valid bagi para pengambil kebijakan di lingkungan pesantren sehingga dapat mengetahui efek dari aturan yang telah diterapkan bertahun-tahun itu. Selain itu penelitian ini diharapkan bisa memberikan kesadaran untuk melakukan interospeksi diri mengenai sejauh mana pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari hari. Terutama masalah ubudiyah yang secara tidak langsung merupakan ajang untuk melakukan silaturahmi dengan sesama muslim
E. ALASAN MEMILIH JUDUL
Ada beberapa alasan yang mendasari penelitian ini, diantaranya adalah:
1. Adanya pernyataan dari Bp. Hamzah Arsa, dosen psikologi islam, yaitu bahwa ketika seorang santri masuk pondok di kelas 1 maka ia akan berada di shof pertama di setiap sholat berjamaah, kemudian ketika kelas 2 maka ia akan mundur satu shof, kemudian di kelas 3 berada di shof belakang kelas 2, begitu seterusnya hingga ketika kelas 6 malah semakin jarang terlihat dimasjid dan bahkan ketika sudah menjadi ustad malah tidak lagi terlihat diantara shof jamaah sholat 5 waktu.
2. Ada fenomena aneh yang terjadi di lingkungan pesantren tinggi IDIA Prenduan sendiri, dimana kebanyakan aturan mengenai disiplin agama hanya menjadi formalitas sekilas ketika menjadi santri saja, dan ketika sudah berada di tingkat atas baik itu mualim ataupun ustadz malah menjadikan kemungkinan melanggar aturan semakin tinggi, terutama dalam hal sholat berjamaah
3. Penelitian ini menurut penulis adalah tidak umum karena meneliti tentang jiwa keberagamaan di sebuah lembaga yang menurut pemahaman umum sangat agamis.
4. Penulis ingin agar apa yang diharapkan oleh pengasuh pesantren terealisasi dalam kehidupan nyata para santrinya
F. BATASAN ISTILAH DALAM JUDUL
Definisi Konseptual dan Operasional
Definisi konseptual dan operasional bermaksud untuk menghindari kesalah pahaman atau perbedaan pengertian dalam memaknai istilah- istilah yang dipakai dalam penelitian ini. Dan juga bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai judul yang diangkat dalam penelitian ini. Oleh karena itu penulis memberikan batasan definisi dan pemaknaan dari tiap kata yang dipakai dalam judul penelitian ini, antara lain:
- Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yaitu keadaan yang membedakan antara organisme (makhluk hidup) dan benda mati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kehidupan)
- Keberagamaan (Religiositas) adalah suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada Suatu Dzat pencipta manusia, menumbuhkan rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-aturan-Nya ( Clark, 1958, hal 22).
- Ustadz' adalah istilah yang digunakan oleh kaum modernis. Berasal dari bahasa Persia. Bukan bahasa Arab. Istilah ini merupakan deklarasi dari ideologi fundamentalis baru selama pertengahan abad ke-19. Tidak ada referensi untuk istilah 'ustadz' dalam teks-teks klasik. Istilah 'ustadz' pada awalnya digunakan oleh Muhammad Abduh . Para pengikut Muhammad Abduh menggunakan 'ustadz' untuk mengkonotasikan diri mereka sendiri menjadi 'guru'. Tidak ada satupun buku yang ditulis 200 tahun yang lalu menyebut para ulama muslim sebagai'ustadz'. (http://wakalanusantara.com/detilurl/Kesalahpahaman.Istilah.Ustadz/418)
Ustadz dalam konteks ini adalah pelaksana dan pengawas program dalam sebuah pesantren yang menjalankan tugas dari kyai
- Mualim adalah pelaksana dan pengawas program dalam sebuah pesantren yang menjalankan tugas dari ustadz
- Program Intensif adalah sebuah program di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan yang diperuntukkan bagi mahasiswa dari sekolah umum ataupun lulusan pesantren yang ingin kuliah sekaligus nyantri. Program ini memadukan antara kurikulum pesantren tinggi (ma’had Aly) dengan kurikulum Perguruan Tinggi yang dikemas dalam sistem pendidikan integral yang berlangsung selama 24 jam.
Jadi yang dimaksud dengan kehidupan keberagamaan dalam penelitian ini adalah bentuk pelaksanaan ibadah dari para ustadz dan mualim dalam kehidupan sehari hari setelah tidak ada kontrol dari pihak atasan. Dengan berdasarkan pengalaman pendidikan agama selama menjadi santri yang berlangung secara integral selama 24 jam dan senantiasa diawasi dan dievaluasi oleh pihak atasan selaku pembimbingnya.
G. KAJIAN PUSTAKA
• Konsep Umum Tentang Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi".(Kamus Sansekerta-Inggris Monier-Williams: 1899)Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Agama)
A. Agama Menurut Para Pakar
Mahmud syaltut menyatakan bahwa agama adalah ketetapan ilahi yang diwahyukan kepada para Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia. Dari sudut pandang ini agama merupakan petunjuk dari tuhan untuk manusia dalam menjalani kehidupannya.
Menurut guru besar Al-Azhar agama adalah hubungan antara dua pihak, dimana pihak yang pertama mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang kedua, atau agama adalah hubungan antara makhluk dengan khaliqnya. Hubungan ini diwujudkan dalam sikap batinnya serta tampak dalam ibadahnya yang dilakukan dan tercermin pula dalam sikap kesehariannya (M. Quraish Shihab, 2007: 324)
Jadi jelas bahwa agama merupakan suatu bentuk hubungan yang khusus antara hamba dengan tuhannya yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi darinya. Dan hubungan ini terwujud dalam bentuk pengamalan kegiatan tertentu yang kemudian disebut dengan ibadah.
B. Ibadah Dalam Agama Islam
Ibadah dalam agama islam bertujuan mewujudkan hubungan antara hamba dengan tuhannya serta mendidik mental. Ibadah islam juga bertujuan memperkokoh dan melatih diri hamba tersebut agar mampu menghadapi berbagai cobaan hidup, sehingga dapat menjalani kehidupan sebagaimana yang allah perintahkan. Ia juga mendorong manusia untuk beribadah kepada allah dalam semua aspek kehidupan.
Agama islam merupakan agama yang universal yang mengatur segala urusan manusia dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Karena agama islam mengajarkan kebaikan kepada pemeluknya dalam menjalani kehidupan, dan juga memberikan rambu rambu mengenai apa yang harus dilaksanakan dan apa yang harus diringgalkan. Sehingga sesuatu yang merupakan kebaikan dapat bernilai ibadah jika dilakukan sesuai dengan nilai nilai ajaran agama islam, selain dengan tata cara ibadah yang sudah ditentukan oleh allah.
C. Tujuan-Tujuan Ibadah Dalam Agama Islam
1. Mewujudkan hubungan antara hamba dan tuhannya serta mendidik mental
Hubungan hamba dengan tuhannya dapat diwujudkan melalui muraqabah (sikap merasa selalu dalam pengawasan allah) dan hudlu’ (tunduk). Dengan kedua sifat tersebut seorang hamba pasti akan selalu melaksanakan kewajibannya dan menyandarkan segala kebutuhannya kepada allah sebagai dzat yang maha agung yang mempunyai kuasa atas segalanya dan menjadi tempat kembali dalam segala urusan.
Dengan beragama akan menjadikan mental seseorang terasah dan terlatih karena ajaran agama menghendaki kebaikan bagi manusia dalam segala aspek kehidupan baik itu sosial, pribadi, ataupun ketuhanan. Sehingga manusia bisa menempatkan dirinnya sesuai dengan posisi yang ia jalankan.
2. Menjadikan manusia ingat akan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan manusia lainnya serta memperkokoh rasa solidaritas kepada sesama.
Dengan agama manusia akan menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat harus ada sikap saling memberi nasihat dan memberi pertolongan, karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan otomatis tidak bisa dikatakan baik pribadinya jika orang orang disekitarnya tidak mempunyai kelakukan yang baik, karena ia mempunyai tanggung jawab sosial.
Dan dengan ibadah sholat akan menjadikan pribadi seseorang dan orang disekitarnya menjadi semakin baik sebagaimana firman allah : “sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
3. Mengaktifkan dan menguatkan fisik serta melatih untuk menanggung segala bencana dan kesulitan hidup dan terbiasa untuk mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Ibadah dalam agama islam selalu disertai dengan gerakan gerakan tertentu dan persyaratan khusus yang dapat menjadikan kehidupan manusia menjadi sehat secara fisik dan mental dan juga disiplin karena islam sangat menghargai waktu. Hal ini dapat dilihat salah satunya dari ibadah sholat yang waktu pelaksanaanya sudah ditentukan secara spesifik dan syarat syaratnya seperti bersuci menjadikan tubuh menjadi sehat, selain gerakan sholat yang juga mempunyai manfaat bagi kesehatan.
Terlebih lagi sholat jamaah akan menjadikan manusia sehat secara sosial karena selalu bersilaturahmi dengan manusia yang lain.
D. Realitas Sholat
Mendirikan sholat berjamaah tepat pada waktunya sangatlah dianjurkan dalam islam. Bahkan dalam hadits dari Abu Huroiroh radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh aku ingin menyuruh manusia mengumpulkan kayu, kemudian aku menyuruh muadzin menyerukan adzan, kemudian aku sendiri pergi untuk membakar rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjama'ah. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, seandainya ia mengetahui bahwa dia akan mendapatkan daging yang empuk atau dua kuku kambing yang baik, sungguh ia mau untuk mendatangi shalat isya'." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i).
Al-Utsmani rahimahullah berkata dalam kitab I'laus Sunan, "Hadits di atas menunjukkan bahwa shalat berjama'ah yang dianjurkan oleh syari'at untuk mendatanginya adalah shalat jama'ah pertama. Jika jama'ah kedua disyari'atkan, lantas mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat ingin membakar rumah orang-orang yang tidak ikut serta dalam shalat berjama'ah pertama, padahal mereka jelas-jelas bisa mengerjakannya pada jama'ah kedua dalam masjid yang sama.
Oleh karena itu sebagian ulama menyatakan bahwa hukum sholat jamaah yang pertama adalah wajib. Sehingga menjadikan jama'ah kedua di masjid yang sama hukumnya makruh.Yang berpendapat seperti ini salah satunya Imam Ahmad. Alasan yang kedua adalah dikhawatirkan akan timbul perpecahan diantara kaum muslimin.
Imam Syafi’i berkata : “Bila ada beberapa orang masuk masjid, lantas mendapati imam telah selesai shalat (jama’ah) lakukanlah shalat sendiri-sendiri. Bila mereka melakukan shalat berjama’ah sendiri (lagi) boleh saja. Tapi, aku tidak menyukai semacam itu. Karena hal itu bukan merupakan karakteristik salaf“
Kemudian Imam Syafi’i melanjutkan : “Adapun masjid yang ada di pinggir jalan (yang disediakan untuk para musafir) yang tidak punya imam dan muadzdzin tetap, maka melakukan (shalat) jama’ah berulang kali di dalam masjid tersebut tidak apa-apa“.
Imam Syafi’i berkata pula : “Aku telah hafal (beberapa riwayat), sesungguhnya ada sekelompok shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketinggalan shalat berjama’ah. Lantas merekapun shalat sendiri-sendiri. Padahal mereka mampu mendirikan shalat jama’ah lagi. Tapi, hal itu tidak dilakukannya, karena mereka tidak suka di satu masjid diadakan (shalat) jama’ah dua kali.
Dalam kitab wasa’ilal syi’ah, jilid 3, halaman 90, Imam Jakfar Shadiq berkata: “ barang siapa menegakkan sholat wajib pada awal waktunya dan menjalankan ketentuan ketentuannya, maka para malaikat akan mengangkat shalatnya menuju langit dalam keadaan putih dan suci. Namun barang siapa yang melaksanakan setelah waktu yang ditentukan tanpa alasan, dan tidak menjalankan ketentuan ketentuannya, maka para malaikat akan mengangkat sholatnya menuju langit dalam keadaan hitam kelam.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud ra : “aku bertanya kepada Rosulullah SAW, “apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab : “Shalat pada waktunya”. Lalu aku bertanya lagi. Beliau menjawab : “Berbakti kepada ayah dan ibu”. Aku bertanya lagi : “lalu apa?”. Beliau menjawab : “berjuang dijalan allah”
Dalam hadis qudsi Allah mengingatkan kita mengenai kewajiban sholat berjamaah di masjid, “dan apabila ia (hamba-Ku) mengetahui bahwa sudah masuk waktu sholat dan ia tidak melaksanakannya, ia sesungguhnya tidak peduli terhadap-Ku”.
• Konsepsi Al-Quran Tentang Sholat
A. Pengertian Sholat dan Maknanya
Secara etimologi kata shalat berasal dari bahasa arab الصلاة yang berarti doa memohon kebaikan (Musthafa Al-Khin, 1987, hal 98). Bentuk jamak dari sholat adalah kata shalawat yaitu صلوات atau الصلوة dengan memakai huruf wau (و) yang diartikan dengan meningkatkan amal kebaikan kepada allah sebagai tanda tunduk dan syukur serta memohon perlindungan dari-Nya (Louis Ma’luf, 1986, hal 434).
Didalam alquran, lafal sholat mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah: do’a, ampunan, rahmat, dan rumah sebagai tempat ibadah. Diantara ayat yang menerangkan tentang pengertian sholat itu do’a adalah :
و صل عليهم ان صلوتك سكن لهم (التوبة : 103)
Secara teminologi, banyak para ulama yang memberikan definisi, antara lain adalah Imam Taqiyyudin yang memberikan pengertian bahwa sholat adalah”sesuatu pernyataanyang terdiri dari beberapa ucapan dan perbuatan, yang diawali dengan bacaan takbirdan diakhiri dengan salam menurut beberapa syarat tertentu.”
Menurut Nasrudin Razak dalam bukunya Dinul Islam memberikan definisi shalat sebagai suatu sistem ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan bacaan takbir dan diakhiri dengan salam berdasar atas syarat syarat tertentu dan rukun tertentu pula.
Pada dasarnya pengertian sholat menurut kedua pakar diatas tidak berbeda jauh dan masih mempunyai pengertian makna dalam sudut pandang yang sama. Dan dalam sudut pandang yang lain Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqey memberikan pengertian sholat yang lebih mendalam dengan sudut pandang yang berbeda yaitu berhadapan hati (jiwa) kepada allah; hadap yang mendatangkan rasa takut, menumbuhkan rasa kebesarannya dan kekuasaannya dengan penuh khusyu’, ikhlas didalam beberapa perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan disudahi oleh salam.
Dari beberapa pengertian diatas dapat kita pahami bahwa sholat merupakan doa kepada allah untuk memohon kebaikan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan tata cara tertentu, dan dengan menghadapkan hati kepada allah dengan menyadari segala sifat keagungannya, sehingga dilakukan dengan khusyu dan ikhlas.
Memang tidak ada pengertian yang dapat mewakili makna sholat yang sebenarnya tetapi dalam sudut pandang tertentu mungkin beberapa pengertian diatas cukup memberikan pemahaman tentang sholat itu sendiri. Karena definisi menurut para pakarpun berbeda beda meskipun pada dasarnya maksud dan tujuannya sama, karena pengertian itu berasal dari teori dan praktek sholat itu sendiri.
H. KAJIAN TERDAHULU TENTANG KEBERAGAMAAN
Beberapa penelitian tentang keberagamaan telah dilakukan, diantaranya adalah yang dilakukan oleh Qibtiyah mahasiswi fakultas dakwah jurusan BPI Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan. Fokus penelitiannya pada sikap keberagamaan tukang becak Prenduan Kec. Pragaan Kab Sumenep. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metode survei, wawancara, analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap mengindikasikan adanya sikap keberagamaan yang kuat, walaupun masih dipengaruhioleh lingkungan hidup dimana ia tinggal dan berada.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Yusriyah mahasiswi fakultas dakwah BPI IDIA Prenduan. Fokus penelitiannya pada kehidupan keberagamaan para ibu dapur MTA Putri Al-Amien Prenduan Kec. Pragaan Kab. Sumenep dengan jumlah responden 7 orang dan beberapa sumber dari data tertulis. Penelitiannya menggunakan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan dengan analisis induktif.
I. SUBYEK DAN OBYEK PENELITIAN
Subjek dalam penelitian ini adalah para Ustadz dan Muallim di Program Intensif Putra Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep Madura Tahun 2010-2011. Dengan jumlah keseluruhan Ustadz adalah 8 orang dan jumlah muallim adalah 17 orang. Sedangkan obyek penelitian ini adalah kehidupan keberagamaan mereka dalam keseharian dan segala aktifitas mereka.
J. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA
Untuk mendapatkan data akurat yang dibutuhkan dalam penelitian, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Metode observasi adalah salah satu instrumen penelitian yang berguna untuk mengumpulkan data dengan menggunakan kekuatan pengamatan (Dhofir, 1997:45). Dengan metode ini penulis berharap bisa mendapatkan gambaran yang jelas dan nyata terhadap aktifitas keberagamaan para ustadz dan mualim dalam kesehariannya dengan menjadi bagian dari kehidupan mereka
2. Metode interview
Interview adalah salah satu jenis alat pengumpul data yang menggunakan tanya jawab secara lisan (Dhofir, 1997:46). Pelaksanaan metode ini adalah dengan melakukan tanya jawab secara langsung kepada responden untuk mengetahui sejauh mana pemahaman terhadap ajaran agama islam dan praktek terhadap teori yang sudah diketahui, dan juga sejauh mana efek disiplin pondok terhadap pengamalan ajaran islam dalam kehidupan sehari hari
3. Metode dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data data melalui dokumen dokumen dan arsip arsip dari mentri syariah dan dakwah, buku buku mengenai pendapat atau teori yang berhubungan dengan penelitian
K. ANALISIS DATA
Salah satu hal yang terpenting dalam penelitian adalah analisis data. Analisis data yang akurat akan menjadikan kesimpulan yang didapat menjadi semakin valid.
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yan gpenting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. (Moleong, 2005:248)
Sedangkan analisisnya menggunakan analisis induktif, yakni dimulai dari lapangan atau fakta empiris, dimana peneliti terjun ke lapangan, mempelajari, atau penemuan yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan, dan melaporkan serta menarik kesimpulan dari proses tersebut
L. PENGECEKAN KEABSAHAN DATA
Untuk menetapkan keabsahan (truthworthiness) diperlukan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2005:234). Untuk memenuhi kriteria tersebut, maka ada beberapa hal yang harus dilakulkan peneliti dalam teknik pemeriksaan data yaitu:
1. Perpanjangan keikutsertaan
Yaitu peneliti memperpanjang keikutsertaanya dilapangan sampai ia mencapai kejenuhan dalam pengumpulan datanya (Moleong,2005:327). Hal ini dilakukan dengan membangun hubungan yang intens dengan responden agar memperoleh data yang valid, jujur, dan sesuai dengan realita yang terjadi.
2. Ketekunan pengamatan
Ketekunan pengamatan ini dilakukan dengan maksud untuk menemukan ciri ciri dan unsur unsur dalam situasi yang relevan dengan permasalahan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal hal tersebut secara rinci (Moleong,2005:329). Hal ini berguna untuk memahami permasalahan yang terjadi agar lebih jelas sehingga bisa mendapatkan gambaran yang nyata dari realita yang terjadi untuk mendapatkan solusi yang tepat dan efektif.
3. Triangulasi
Yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk proses pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap dua data itu (Moleong,2005:230). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan satu macam dari empat macam triangulasi berupa triangulasi dengan sumber, menurut Patton (Moleong,2005:331)bahwa triangulasi dengan sumber itu dapat dicapai dengan jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b. Membandingkan apa yang dikatakan orang orang didepan umum dengan dikatakan secara pribadi
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
d. Membandingkan keadaan dan perspektiforang dalam strata sosial seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan dan sebagainya
e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
M. TAHAP TAHAP PENELITIAN
Secara umum, tahap tahap penelitian seperti yang dikemukakan oleh Lexy J. Moleong adalah :
1. Tahap pra lapangan
Tahap ini merupakan tahapan persiapan sebelum memasuki lapangan. Hal ini dilakukan agar peneliti memiliki persiapan yang baik dan maksimal. Ada enam kegiatan yang harus dilakukan peneliti dalam tahapan ini diantaranya:
- Menyusun ranangan penelitian
- Memilih lapangan penelitian
- Mengurus perizinan
- Menjajaki dan menilai keadaan lapangan
- Memilih dan memanfaatkan informasi
- Menyiapkan perlengkapan penelitian
2. Tahap pekerjaan lapangan
Pada tahap ini peneliti mulai memasuki lapangan, ada tiga bagian dalam pekerjaan lapangan ini yaitu:
- Memahami latar penelitian dan persiapan diri
- Memasuki lapangan
3. Tahap analisis data
Tahap analisis data ini merupakan tahapan terakhir dari kedua langkah diatas. Menurut Moleong (2005:280), ada tiga prinsip pokok dalam analisis data diantaranya:
1. Konsep dasar
2. Menemukan tema dan merumuskan hipotesis
3. Menganalisis berdasarkan hipotesa
N. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Agar penulisan penelitian ini lebih terstruktur dan mempermudah peneliti dalam pembahasannya, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut:
Pada bab pertama berupa pendahuluan yang mencakup diantaranya: latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, alasan penelitian judul, batasan istilah dalam judul. Semua ini merupakan suatu gambaran awal dan perkenalan untuk menuju pada pembahasan berikutnya.
Pada bab kedua yaitu kajian pustaka yang memuat dua sub pembahasan diantaranya: konsep umum tentang agama yang mencakup: agama menurut para pakar, ibadah dalam agama islam, tujuan ibadah dalam agama islam, dan realitas sholat sub pembahasan kedua adalah konsepsi alquran tentang sholat yang membahas tentang pengertian sholat dan maknanya.
Pada bab selanjutnya, bab ketiga, adalah metode penelitian yang berisi tentang penjelasan mengenai pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumebr data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan temuan, tahap penelitian, semaunya merupakan pembahasan tentang metode yang dipakai dalam penelitian ini.
Pada bab ke empat adalah laporan penelitian yang berisi uraian tentang paparan data dan temuan hasil penelitian.












DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Albani, M. Nashiruddin. Ringkasan Shahih Bukhari. Bandung: Gema Insani Press
2. Anuz, Fariq Gasim . Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari)
3. Clark, W. H., (1958), The Psychology of Religion. New York : The Mac Millan Company.
4. Dhofir, Syarqowi. 1997. Pengantar Metodologi Riset Dengan Spectrum Islam. Prenduan: Percetakan Al-Amien
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Fitrah
6. http://islamlib.com/id/artikel/islam-liberal-keberagamaan-pasca-politisasi-agama/
7. http://wakalanusantara.com/detilurl/Kesalahpahaman.Istilah.Ustadz/418
8. Moleong, Lexy J.2006. Metodologi Penelitian Kulaitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
9. Rafi’udin. 2004. Terapi Kesehatan Jiwa Melalui Ibadah Sholat. Jakarta: Restu Ilahi
10. Rahmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo persada
11. Roham abu jamin.2000. Shalat Tiang Agama. Jakarta: Media dakwah
12. Shihab, M Quraish. 2003. Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan
13. Shihab, M. Quraish. 2005. Lentera Hati. Bandung: Mizan
14. Thoha, Muhammad.2003. Intisari Ajaran Islam. Bandung: Irsyad faitus salam







INSTRUMEN WAWANCARA
A. Responden I
1. Sudah berapa tahun anda menjadi santri?
2. Apakah anda masuk pesantren berdasarkan inisiatif sendiri atau dari orang lain?
3. Mengapa anda memutuskan untuk masuk ke pesantren?
4. Apakah anda melaksanakan aturan pondok dengan baik?
5. Apakah anda merasa cocok dengan pola kehidupan di pondok?
6. Menurut anda apakah arti kehidupan itu?
7. Apa yang anda pahami mengenai kehidupan keberagamaan?
8. Apa yang anda pahami tentang islam?
9. Apakah kehidupan sehari hari anda sudah sesuai dengan ajaran islam?
10. Apa yang anda pahami mengenai ibadah dalam agama islam?
11. Sejauh mana anda mengetahui arti sholat?
12. Sejauh mana pemahaman anda mengenai kewajiban sholat?
13. Apakah anda terbiasa melaksanakan sholat tepat waktu, mengapa?
14. Apakah anda pernah melaksanakan sholat dengan tidak tepat waktu?
15. Apa yang anda rasakan jika anda sholat tidak tepat waktu?
16. Apakah anda lebih suka sholat sendirian atau sholat berjamaah?
17. Menurut anda apa hokum sholat berjamaah?
18. Apakah dengan aturan yang diterapkan di pondok mengenai kewajiban sholat berjamaah dimasjid membuat anda konsisten sholat berjamaah hingga sekarang?
19. Apakah anda merasa lebih islami dari sebelum masuk ke pondok?
20. Menurut anda apakah kehidupan di pondok bisa menjamin seseorang untuk konsisten menjalankan ajaran islam setelah keluar dari pondok?
B. Responden II
1. Bagaimana pendapat anda mengenai kehidupan keberagamaan mereka?
2. Bagaimana menurut anda mengenai disiplin yang diterapkan di pondok terutama mengenai sholat berjamaah?
3. Pernahkah anda menjumpai kehidupan keberagamaan mereka yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam?
4. Bagaimana pelaksanaan sholat mereka ?
5. Pernahkah anda melihat mereka tidak sholat tepat waktu atau tidak sholat berjamaah atau bahkan tidak melaksanakan sholat sama sekali?
6. Pernahkah anda menegur mereka ketika mereka tidak melaksanakan kewajibannya?
7. Menurut anda bagaimanakah seharusnya kehidupan keberagamaan mereka?


Konseling Ego: Teori Pendekatan Konseling Menurut Carl Gustav Jung dan Erich Fromm


Konseling Ego: Teori Pendekatan Konseling Menurut Carl Gustav Jung dan Erich Fromm
Oleh : Aris Kurniawan
I. Pendahuluan
Carl Gustav Jung dan Erich Fromm merupakan dua tokoh pionir dalam bidang psikologi eksistensi kemanusiaan (humanistic- existential psychology). Kedua tokoh tersebut berasal dari daratan eropa, sesuai dengan tempat perkembangan ilmu psikologi. Keduanya merupakan pakar dalam psikoanalisa. Tetapi keduanya mempunyai pendapat masing masing yang berbeda dalam bidang yang digelutinya, termasuk dalam bidang konseling ego.
Pada dasarnya teori dari kedua tokoh tersebut lebih berhubungan dengan bidang psikologi dan psikoterapi karena keduanya merupakan tokoh yang berpengaruh dalam bidang psikologi. Jung sendiri merupakan seorang psikiater yang juga merupakan pendiri dari psikoanalisa modern. Sedangkan Erich Fromm merupakan seorang psikolog dan psikoanalis, Keduanya merupakan tokoh besar dalam bidang psikoanalis modern yang merupakan kelanjutan dari teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Tetapi keduanya mempunyai teori yang sama sekali berbeda dengan pendahulunya, Sigmund Freud, bahkan ada beberapa kritik dari mereka terhadap teori dari Freud.
Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa meskipun freud dan beberapa tokoh lain yang muncul setelahnya masih membahas mengenai psikoanalisa tetapi terdapat perbedaan pendapat yang cukup tajam antara teori psikoanalisis klasik (Freud) dan psikoanalisis baru (Jung, Adler, Rank, Horney, Fromm, Sullivan, dll)
Kita dapat melihat bahwa Freud merupakan penggagas awal dari teori psikoanalisa yang kemudian dikembangkan oleh banyak tokoh yang sekaligus memunculkan berbagai teori baru, dan bahkan Jung sendiri merupakan pionir yang terkenal dalam bidang analisis mimpi (dream analysis). Dan Fromm sendiri juga merupakan pendiri dari psikologi politik melalui bukunya Escape from Freedom.
Tulisan dan karya karya Jung khususnya dan Erich Fromm pada umumnya, dipengaruhi oleh religiusitas yahudi. Seperti dialog jung dengan freud tentang mimpi, yaitu confrontation with the unconscious, karya karya dari Erich Fromm seperti The art of loving, escape from freedom, dan man for himself.
Kita dapat melihat bahwa keduanya tetap dipengaruhi oleh pandangan dari Freud dan juga religiusitas yahudi, karena keduanya beragama Kristen. Dan teori teori mereka banyak digunakan oleh para pastor dalam melakukan bimbingan kepada jamaahnya.

II. Pembahasan
Untuk lebih memperjelas teori maupun pendapat dari Jung dan Fromm dalam bidang konseling ego maka perlu dibahas mengenai dasar dari konseling ego sendiri yang merupakan pengembangan dari sebuah metode psikoterapi. Karena keduanya merupakan psikiater dan juga psikolog.
Setiap terapis atau konselor memilih jalan yang dalam persepsinya mampu mengembalikan keseimbangan diri pasiennya, baik dengan konsep kesehatan mental menurut freud (keseimbangan antara ego dan super ego), menurut jung (perkuatan ego) menurut adler (mengalihkan rasa kekurangan diri dalam diri dan mengubah gaya hidup), menurut frank( menerima kenyataan akan traumatis masa kecil dan membentuk keinginan yang kuat) maupun menurut Sullivan(memperbaiki konsep diri)
Fungsi ego sendiri menurut para pengiikut Freud dalam bidang psikologi ego adalah lebih dari sekedar wasit penengah yang harus peka akan keinginan-keinginan dari “tuan-tuannya”dan yang harus mengkompromikan dengan keinginan keinginan tesebut. Tuan tuan dan keinginan kienginan yang dimaksud disini adalah dorongan dorongan naluriah dengan prinsip kenikmatannya pada satu sisi dan super ego yang merupakan otoritas orang tua yang sudah diinternalisasikan dengan prinsip realitasnya di sisi yang lain.
Konseling disini tidak berlawanan dengan psikoterapi. Keduanya adalah kembar siam. Karena konseling adalah satu bentuk terapi dengan dialog, analisis, dan bimbingan. Posisinya sebagai bagian dari terapi adalah karena adanya analisis diri. Sisi inilah yang berkaitan erat dengan makna khusus dari apa yang disebut psiko terapi. Terapi dengan dialog, analisis, dan bimbingan, memiliki model yang sangat beragam. Berbagai teori bisa masuk dalam dunianya, baik dari sisi tematis maupun aplikatifnya.
Psikoanalisis adalah salah satu aliran psikologi kepribadian yang meletakkan dasar metodologi kajian psikologi. Pada dasarnya ia adalah salah satu aliran psikoterapi. Ide dasarnya adalah adanya upaya mengangkat pikirantidak sadar muncul ke permukaan dan disadari eksistensinya dengan cara asosiasi bebas. Tujuannya adalah untuk membantu paisen dalam menyadari problematika yang dihadapinya dengan mengendalikan goncagan kejiwaan yang berasal darinya. Juga merekonstruksi kepribadian yang selaras antara id, ego, dan superego.
Sebagian psikolog psikoanalisis setelah Freud, seperti Heinz, Hartman, Ernest kris, dan david rapaport mengkaji ulang teori psikoanalisis dan mereka membuktikan bahwa ego memiliki peranan dalam keseimbangan hidup, baik itu normal maupun penyimpangannya. Merekapun mengakui kemndirian ego dalam menggambarkan usaha individu dalam menyikapi kebutuhan hidup.
Psikoanalisis berpendapat bahwa manusia layaknya binatang yang digerakkan oleh insting biologisnya. Sedangkan beragam aktifitasnya (menuntut ilmu, mempelajari seni, beragama, dan banyak lainnya), semua itu dijalaninya hanya untuk memuaskan keinginanya. Kebahagiaan hanya bisa tercapai bila manusia mampu memuaskan inting primitifnya melalui id, ego, dan super ego.
Untuk lebih memperjelas teori teori dari mereka, berikut ini adalah pembahasan mengenai konseling ego dan beberapa teori lain yang mereka kemukakan.
1. Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung merupakan orang berkebangsaan Swiss yang lahir pada tahun 1875. Beliau sudah mengenal tentang studi mengenai perbandingan berbagai agama melalui komik komik yang diberikan oleh ibunya. Jung mempunyai minat yang besar terhadap gambar gambar eksotik dewa dewa dalam agama hindu. Beliau merupakan tokoh penting dalam ilmu psikologi, dan dianggap kontroversial oleh banyak ahli psikologi lain. Beliau merupakan seorang psikiater dan juga seorang dokter, meskipun sebelumnya jung bercita cita untuk menjadi arkeolog.
Beliau telah membuat kontribusi yang radikal dan menonjol dalam 4 bidang psikologi, yaitu:
- Bidang Psikologi Behavioral, melaui penelitiannya tentang asosiasi kata kata, yang juga menjadi dasar pengembangan tes deteksi kebohongan.
- Bidang Psikologi Psikodinamis, beliau mendorong batas teori psikodinamis lebih luas dari yang pernah dilakukan Freud.
- Psikologi Humanistik, jung berusaha mengantisipasi semua tema utama dalam pendekatan eksistensi humanistik, terutama dalam konsep “self”( yang merupakan integrasi dari prinsip psikologi manusia), imajinasi aktif dan kesadaran manusia.
- Psikologi Transpersonal, dalam bidang ini jung sudah menjadi pakar sejak sebelum bidang ini dianggap sebagai cabang psikologi.
Teori kepribadian Jung biasanya dipandang sebgai teori psikoanalitik karena tekanannya pada proses-proses ketidaksadaran, namum berbeda dalam sejumlah hal penting dengan teori kepribadian Freud. Mungkin segi yang paling khusus dan mencolok dalam pandangan Jung tentang manusia adalah bahwa ia tidak hanya ditentukan oleh sejarah individu dan ras (kausalitas), tetapi juga ditentukan oleh tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi (teologi). Baik masa lampau sebagai aktualitas maupun masa depan sebagai potensialitas sama-sama membimbing tingkah laku sekarang. Mengutip kata-kata Jung, “ Orang hidup dibimbing oleh tujuan-tujuan maupun sebab-sebab”.
Carl jung percaya bahwa kita semua berpotensi hidup dalam totalitas keberadaan kita, segala naluri, dorongan, dan hasrat yang menjadikan kita manusia. Mungkin sebagai pengurus yang peka, atau pengusaha yang agresif.
2. Pokok-pokok Teori Carl Gustav Jung
a. Struktur kepribadian
Kepribadian atau psyche (istilah yang dipakai Jung untuk kepribadian) tersusun dari sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran : ogo beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif.
Disamping sistem-sistem yang terkait dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap jiwa (introvert dan ekstravert) dan fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pengidraan, dan intuisi).
a. Sikap jiwa, adalah arah enerji psikis (libido) yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Sikap jiwa dibedakan menjadi :
1. Sikap ekstrovert
> libido mengalir keluar
> minatnya terhadap situasi sosial kuat
> suka bergaul, ramah, dan cepat menyesuaikan diri
> dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain berkipun ada masalah.
2. Sikap introvert
> libido mengalir ke dalam, terpusat pada faktor-faktor subjektif
> cenderung menarik diri dari lingkungan
> lemah dalam penyesuaian social
> lebih menyukai kegiatan dalam rumah
b. Fungsi jiwa, adalah suatu bentuk aktivitas kjiwaan yang secara teoritis tetap meskipun lingkungannya berbeda-beda. Fungsi jiwa dibedakan menjadi dua ;
o Fungsi jiwa rasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja dengan penilaian dan terdiri dari :
> pikiran : menilai benar atau salah
> perasaan : menilai menyenangkan atau tak menyenangkan
o Fungsi jiwa yang irasional, bekerja tanpa penilaian dan terdiri dari :
> pengideraan : sadar indrawi
> intuisi: tak sadar naluriah
Menurut Jung pada dasarnya setiap individu memiliki keempat fungsi jiwa tersebut, tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang berkembang atau dominan. Fungsi jiwa yang berkembang paling meonjol tersebut merupakan fungsi superior dan menentukan tipe individu yang bersangkutan.

3. Struktur Kepribadian.
Keseluruhan kepribadian atau psikhe, sebagaimana disebut oleh Jung terdiri dari sejumlah sistem yang berbeda, namun saling berinteraksi. Sistem-sistem yang terpenting adalah ego, ketidaksadaran pribadi berserta kompleks-kompleksnya, ketidaksadaran kolektif beserta arkhetipus-arkhetipusnya, persona, anima dan animus, dan bayang-bayang. Disamping sistem-sistem yang saling tergantung ini terdapat sikap-sikap introversi dan ekstraversi, serta fungsi-fungsi pikiran, perasaan, pendirian, dan intuisi. Akhirnya terdapat diri (self) yang merupakan pusat dari seluruh kepribadian.
• Kesadaran (Consciusness) dan Ego
Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan sadar. Ego melahirkan perasan identitas dan kontinuitas seseorang, dan dari segi pandangan sang pribadi ego dipandang berada pada kesadaran.
4. Erich Fromm
Merupakan seorang psikoanalis dan pembuat teori sosial dari jerman, yang lahir pada tahun 1900, yang selalu melihat dirinya sebagai neo freudian dalam orientasinya. Tetapi banyak yang menganggapnya sebagai pemegang posisi kunci dalam perkembangan kemanusiaan. Fromm melihat kehidupan manusia sebagai dasar pertentangan karena manusia merupakan bagian dari alam dan sekaligus terpisah darinya, kita adalah binatang dan manusia. Beliau mengemukakan mengenai lima dasar kebutuhan eksistensi yaitu: relatedness (keterhubungan), transendence (kebersandaran), rootedness, identify dan frame orientasi.
Fromm berpendapat bahwa karakter sosial adalam sebuah proses mediasi antara ketidaksadaran individual dengan arah ekonomi dan sosial. Jenis karakter yang terpisah berkembang untuk memasangkan aturan dan fungsi yang dibutuhkan masyarakat. Dalam budaya barat ada lima tipe dasar yaitu: receptive, exploitative, hoarding, marketing dan productive.
Fromm meyakini bahwa kebebasan adalah sebuah aspek alami manusia yang bisa kita ambil atau tinggal. Dia memeriksa bahwa ketika kita mengambil kebebasan itu maka kita akan menjadi sehat. Dimana meninggalkan kebebasan menggunakan proses pelarian diri merupakan akar dari masalah psikologi. Fromm mengidentfikasi ada 3 bentuk umum mekanisme pelarian diri: automaton conformity, authoritarianism, and destructiveness. Automaton conformity adalah merubah idealism seseorang untuk menerima persepsi umum yang mengacu pada jenis keprobadian, pada prosesnya menghilangkan diri sejati seseorang. Automaton conformity menggantikan beban memilih dari diri sendiri ke masyarakat. Authoritarianism memberikan kendali dari seseorang kepada oranglain. Dengan dengan menyerahkan kebebasan seseorang kepada orang lain, hal ini akan menghilangkan kebebasan memilih hamper secara keseluruhan. Kemudian yang terakhir adalah destructiveness adalah sebuah prosies yang mencoba menghilangkan yang lain atau dunia secara keseluruhan, semua hanya untuk menghindar dari kebebasan. Sebagaimana kata Fromm "the destruction of the world is the last, almost desperate attempt to save myself from being crushed by it" kerusakan dunia adalah yang terakhir, hamper mustahil untuk menyelamatkan diriku sendiri dari kerusakan itu. (1941).
Kosa kata biofilia sering digunakan oleh Fromm untuk menjelaskan arah produktif psikologi dan keadaan. Sebagai contoh tambahan dalam bukunya The Heart of Man: Its Genius For Good and Evil, Fromm menulis teori tentang humanis credo:
"I believe that the man choosing progress can find a new unity through the development of all his human forces, which are produced in three orientations. These can be presented separately or together: biophilia, love for humanity and nature, and independence and freedom." (c. 1965)
Erich Fromm mempunyai dalil tentang delapan kebutuhan dasar:
> Keterkaitan dan keterhubungan dengan yang lain, peduli, menghormati, pengetahuan.
> Transendensi kreatifitas, mengembangkan kehidupan yang menarik dan penuh cinta.
> Akar akar rasa memiliki
> Identitas rasa melihat diri kita sebagai manusia yang unik dan bagian dari kelompok social
> Kerangka orientasi, mengerti dunia dan tempat kita di dunia
> Perangsangan dan stimulasi, Secara aktif berjuang untuk tujuan bukan hanya sekedar tanggapan yang sederhana
> Kesatuan, perasaan bersatu antara seseorang dan alam dan dunia diluar manusia
> Keefektifan, kebutuhan untuk merasa terselesaikan
Tesis Fromm tentang "escape from freedom" melambangkan bagian berikut. Makhlkuk individual yang kehilangan ikatan primer seperti alam, keluagra, dsb. Yang juga diungkapkan dalam "freedom from":
"There is only one possible, productive solution for the relationship of individualized man with the world: his active solidarity with all men and his spontaneous activity, love and work, which unite him again with the world, not by primary ties but as a free and independent individual.... However, if the economic, social and political conditions... do not offer a basis for the realization of individuality in the sense just mentioned, while at the same time people have lost those ties which gave them security, this lag makes freedom an unbearable burden. It then becomes identical with doubt, with a kind of life which lacks meaning and direction. Powerful tendencies arise to escape from this kind of freedom into submission or some kind of relationship to man and the world which promises relief from uncertainty, even if it deprives the individual of his freedom."
Konseling Ego Dalam Beberapa Aliran Psikoterapi Kontemporer
Ada lima aliran yang mewarnai dunia psikoterapi masa kini / kontemporer. Metode yang sering dipakai oleh para ahli psikoterapi sekuler adalah dengan mengembangkan suatu eclectisism(system filsafat yang menggunakan pemilihan dari berbagai sumber) yang terintegrasi, yang menggunakan berbagai pemahaman dan metode dari bermacam macam pendekatan penyembuhan. Agar dapat digunakan secara efektif maka berbagai sumber daya ini harus diintegrasikan di sekitar suatu inti asumsi yang konsisten tentang tabiat, proses, dan tujuan penyembuhan dan keutuhan.
Dalam konseling pastoral, metode yang digunakan pada masa awal pelayanan adalah menggunakan psikoanalisa, yaitu suatu system psikologi ego sebagai kerangka kerja konsepsional yang mempersatukan. Dan pada masa kini prinsip prinsip konseling konseling pertumbuhan (yang mencakup banyak pemahaman psikologi ego) menjadi suatu system integrasi yang menghasilkan banyak perubahan.
Dari sekian banyak aliran psikoterapi, semuanya dapat dibagi menjadi lima kategori yang salingmelengkapi, dan bertumpang tindih dan juga bertentangan dalam beberapa hal. Kelima aliran tersebut adalah:
1. Terapi yang berorientasi pada pemahaman tradisional
Aliran ini dimulai oleh karya perintis Sigmund Freud, yang mencakupkebanyakan terapi yang berkembang sebelum dua decade terakhir. Termasuk Freud dan para ahli analis ego, Adler, Rank, Fromm, Horney, Sullivan, dan carl Rogers.
2. Terapi perilaku, tindakan, krisis
Kelompok terapi ini dihubungkan oleh asumsi bahwa belajar secar salah adalah penyebab dasar dari segala masalah hidup. Karena itu inti dari perubahan yang menyembuhkan adalah memperlajari kembali perilaku dan atau cara berpikir yang tepat
3. Terapi potensi manusia
Aliran ini mencakup berbagai terapi non analitik yang tujuan khasnya adalah untuk membantu orang mengaktualisasikan berbagai macam potensi mereka sepenuhnya, seperti analisis transaksional, terapi gestalt, dan terapi badan
4. System relasional dan terapi radikal
Aliran ini mencakup semua terapi yang bertujuan untuk membebaskan berbagai system social yang kecil maupun yang lebih besar sehingga semua anggotanya dapat hidup dengan lebih bebas dan lebih konstruktif.
5. Terapi pertumbuhan rohani
Aliran ini mencakup berbagai teori yang memandang penyembuhan dan pertumbuhan rohani menuju keutuhan spiritual sebagai pusat bagi seluruh penyembuhan dan pertumbuhan. Berbagai pendekatan seperti dari carl jung, dari para ahli terapi eksistensialis, ahli psikosisntesis, ahli psiko terapi pastoral, dan dari pendekatan dunia timur untuk meningkatkan kesadaran.






Daftar Pustaka
> Butler, Timothy.2007. Getting Unstuck. Jakarta: Serambi. Hal 77
> Clinebell, Howard John. 2002. Tipe-tipe dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral: sumber-sumber untuk pelayanan penyembuhan dan pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 498
> Erich Fromm, Escape from Freedom [N.Y.: Rinehart, 1941], pp. 36-7. The point is repeated on pp. 31, 256-7
> Gerkin, Charles V. 1992. Konseling Pastoral dalam Transisi. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 105
> http://en.wikipedia.org
> http://konselingindonesia.com/
> Izzudin, Muhammad Taufiq. Panduan Lengkap Dan Praktis Psikologi Islam Jakarta: Gema Insani Press
> Sularto, St.2004. Bukuku kakiku. Jakarta: Gramedia. Hal: 180

Saturday, October 2, 2010

sehat alami dan islami 2 (analisa penyakit versi bengkel hati ust. danu)


Saya pernah ikut tianshi, dan disitu menurut ramalan baby boomers bahwa sector yang akan berkembang ditahun tahun mendatang adalah sector kesehatan, setelah sebelumnya adalah sector teknologi. Hal ini berdasarkan perhitungan bahwa semakin hari semakin sulit untuk mendapatkan kesehatan. Sehingga yang paling berpeluang menurut mereka adalah berada di sector kesehatan, entah itu menjadi dokter perawat atau penjual obat ataupun makanan kesehatan.
Memang kesehatan itu mahal harganya sebagaimana pepatah mencegah lebih baik dari mengobati. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesehatan itu, apakah hanya sehat secara fisik saja. Saya melihat di lintas berita.com bahwa menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi.
Aspek kesehatan yang lebih luas itu tentu membuka kajian yang lebih dalam lagi tentang kesehatan. Hal ini dibarengi dengan semakin majunya dunia medis yang bias dilihat dari banyaknya obat obatan, transplantasi organ, dan metode pngobatan yang lain. Selain itu penelitian di bidang kesehatan tidak hanya dilihat dari sudut pandang medis saja tetapi juga sudut pandang agama islam. Sebagaiman yang dilakukan oleh Ust. Danu yang menghubungkan kesehatan manusia dengan akhlak.
Memang dalam peradaban islam kita telah melihat betapa majunya dunia kesehatan. Kita bias melihat karya ibnu sina yang menjadi rujukan utama di eropa hingga abad ke 20. Dan juga kita bias melihat bahwa nabi Muhammad tidak pernah sakit sepanjang hayatnya. Memang nabi tidak pernah mengkonsumsi makanan yang gizinya memenuhi kebutuhan harian tubuh. Padahal menurut ilmu kedokteran ada kadar gizi tertentu yang harus dicukupi setiap harinya. Di artikel yang saya tulis sebelumnya, nabi Muhammad melakukan diet khusus untuk memilih makanan yang akan dikonsumsi. Tetapi jika dihubungkan dengan konsep kesehatan dari ust. Danu maka akhlak nabi yang mulialah yang menjadikan beliau mendapatkan kesehatan, bukan hanya akhlak kepada manusia lain saja, tetapi juga akhlak kepada allah makhluknya dan kepada diri sendiri. Ada beberapa penyakit yang menurut penelitian ustad danu bias disembuhkan dengan memperbaiki akhlak kita. Saya mendapat informasi berikut dari alamathur.com semoga bermanfaat.
Seorang ustad (dia gak mau dipanggil “ustad”), atau mas Danu ini seorang insinyur yang melakukan penelitian berbagai penyakit plus solusinya. Sebagai “host” dari tayangan Bengkel Hati di televise Indonesia yaitu di TPI, mas Danu ini jadi terkenal seluruh dunia. Pasien yg hadir pada acara ini bukan hanya dari seluruh pelosok di tanah air namun dari Turki, Malaysia dan negara2 lain. Beliau dpt ditemui langsung di studio/masjid-nya TPI di Jakarta setiap hari Minggu pukul 5:00am (waktu Indonesia) atau juga dengan telpon di : +62.21.87798000 / 87797000 Gratis lho!!!
Di bawah ini adalah sebagian penyakit2 & solusinya yang sempat dicatat. Hampir semua penyakit dapat disembuhkan. Antara Lain:
1. Hernia pada bayi/anak kecil.
Dibawah perut ada lubang kecil, salah satunya ada yg sobek. Ini terjadi biasanya krn ortu (salah satu dr suami/isteri) punya keinginan yg kuat/keras kepala/kaku. Hernia ini mudah sembuh sebab elastis.
Solusinya:
– bayi ditidurkan pd posisi terlentang.
- minta kesembuhan & ampunan pada Allah
- memperbanyak sholat tahajud (dg tdk meninggalkan sholat wajib)
2. Tidak bisa jalan krn lutut kiri bengkak & tangan kanan bagian atas sakit
Untuk lutut kiri, biasanya berhubungan dg pekerja dirumah yg ingin dilakukan, tapi takut menyatakan dg terus terang. Untuk tangan kanan yg sakit, biasanya jika menyuruh orang (baik itu pd keluarga sendiri/orang lain) untuk melakukan suatu pekerjaan sering dengan emosi/marah.
Solusinya:
- mohon ampunan banyak2 pd Allah
- berjanji merubah tabiat/prilaku
- tidak meninggalkan sholat wajib, + sholat tahajut.
3. Gatal-gatal.
Lymphanya tidak bagus. Biasanya problem ini akan muncul krn keinginan yg sangat kuat khususnya dalam situasi rumah tangga/keluarga.
Solusinya: banyak2 istigfar, dan mengubah sikap. tidak meninggalkan sholat wajib
4.Gondok.
Biasanya ini keinginan bicara yg “ingin menang sendiri”, tapi karena takut bicara, maka kelenjar
thyroid membengkak.
Solusinya:
– banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
- sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.- mohon kesembuhan dari Allah
5. Kanker Rahim (stadium 3)
(jika bermasalah dg hal yg berhubungan dg “rahim/ indung telur” biasanya ini menyangkut masalah terhadap orangtua, khususnya dengan IBU). Untuk kanker rahim ini, biasanya muncul karena keseringan emosi/suka marah2/jengkel khususnya pada keluarga (anak2/ suami/isteri/ibu kandung), namun disimpan saja.
Solusinya:
- minta maaf pada orang2 yg disakiti
- belajar untuk tdk marah2
- bertobat pada Allah & mohon kesembuhannya
- sholat wajib & tahajud.
6. Kelainan jantung.
Klep-nya bocor/terbuka. Biasanya ini dikarenakan sering menyimpan “emosi” yg kuat.
Solusinya: seperti pada no.4
7. Sakit Kuning.
Ini empedunya bermasalah. Biasanya karena terlalu banyak ngomong sehingga cenderung menyakiti orang lain.
Solusinya: seperti pada no.4
8. Sakit lever.
Biasanya punya dendam yg masih tersimpan.
Solusinya:
- hilangkan dendam terlebih dahulu.
- memaafkan orang yg dianggap bersalah.
- solusi pada no.4.
9.Pengapuran di tulang belakang & kaki kiri bawah lutut & pinggang sakit.
Biasanya sering marah2/jengkel yg disimpan dan sering berobat ke dukun/paranormal.
Solusinya:
- harus merubah sikap
- kalau marah2 harus segera istigfar, dan sebaliknya memaafkan orang2 yg menjengkelkan/
membuatnya marah.
- solusi no.4
10.Sakit Ginjal (sudah 10 tahun)
Biasanya ini sering marah2 pada isteri/suami/keluarga
Solusinya: solusi no.4
11. Keluar darah dari hidung.
(Baik ini dikarenakan oleh polip maupun tumor). Biasanya ini berhubungan dengan “emosi” yg
berkenaan dengan lingkungan (penciuman), misalnya krn tdk menyukai sesuatu, maka emosi.
Solusinya: solusi no.4
12. Pusing/Migraine yang hebat.
Biasanya punya pikiran banyak dan sering su’udzon (negative thinking).
Solusinya: solusi no.4
13. Komplikasi.
(asam lambung tinggi, hati gelisah susah tidur sehingga hrs menggunakan obat tidur)
Biasanya karena banyak masalah, misalnya memikirkan anak2, kangen dg anak yg jauh, dsb.
Solusinya:
- banyak2 bersyukur pada Allah
- minta maaf pada semuanya (keluarga & orang lain yg disakiti)
- solusi no.4
14. Herpes (di pinggang setengah lingkar sebelah kiri) & ginjal sebelah kiri ada kista.
Secara kedokteran memang penyebab Herpes adalah virus. Namun ini berhubungan dengan
permasalahan dalam keluarga. Dalam “cara melihat” permasalahan dlm keluarga, disikapi dg
kejengkelan/kekecewaan/amarah yang dipendam, dan terus menerus.
Solusinya:
- belajar memahami masalah, dimusyawarahkan.
- solusi no.4
15. Bau Mulut.
Penyebabnya, jarang bicara. Jadi bakteri dlm mulut terus bekerja, sedang O2 tdk leluasa bekerja dg baik. Biasanya mempunyai sifat yg bicaranya tidak enak/suka bikin tersinggung /menyakiti /asbun.
Solusinya: banyak2 istigfar & solusi no.4
16. Bau Badan.
Biasanya orang ini gampang tersinggung, kalau dinasihati langsung “nyerang”, dan malas!
Solusinya:
- jangan malas untuk mandi/membersihkan diri.
- solusi no.4
17. Benjolan di Leher (sebesar telur puyuh, dan sudah 6tahun);
Mata Rabun; Ada benjolan di kemaluan. Biasanya jarang bicara, tapi sekali bicara pedas. Ketika dulu, kalau ada kata/perlakuan yg tidak baik, disimpan saja, sehingga kelenjar thyroid membesar yg akhirnya menjadi benjolan besar.
Solusinya:
- segala sesuatu hrs disikapi dengan sabar.
- sifat yg takut bicara harus dirubah, ajak musyawarah.
- jangan merasa paling benar
- hrs lemah lembut
- solusi no.4
18. Rahim bermasalah.
Hal ini dikarenakan bermasalah dengan Ibu sang pasien. Entah dulu sering membangkang atau membentak-bentak. Untuk mengobatinya, harus meminta maaf kepada Ibu dan bertobat kepada Allah.
19. Kanker Payudara.
Hal ini disebabkan oleh Wanita tersebut memiliki masalah terhadap sang suami atau terhadap anaknya. Misal, tidak mengurus suami dengan baik. Untuk mengobatinya, meminta maaf kepada sang suami atau anak dan bertobat kepada Allah.
20. Asma.
Penyakit asma biasanya disebabkan amarah yang dipendam. Yang harus dilakukan adalah tidak memendamnya, tetapi juga tidak mengumbar amarah. Yang harus dilakukan adalah menyelesaikannya. Kakak saya menderita asma dan telah mencoba solusi yang diberikan. Hasilnya, asma yang telah berpuluh-puluh tahun akhirnya sembuh.
21. Kanker pada kaum pria.
Hal ini dikarenakan Pria tersebut sering memarah-marahi sang Istri. Yang harus dilakukan agar sembuh adalah meminta maaf kepada sang istri dan bertobat kepada Allah.
22. Empedu.
Penyakit ini dikarenakan seringnya membicarakan orang lain, menggosipkan atau
membuat fitnah. Pasien-pasien yang menderita penyakit ini mengakui bahwa dia sering melakukan halhal tersebut. Untuk mengobatinya, meminta maaf kepada orang yang digosipkan atau difitnah dan bertobat kepada Allah.
23. Mata Minus.
Hal ini disebabkan karena meremehkan orang lain sehingga Allah mengaburkan pandangannya.
24. Jantung Koroner.
Hal ini disebabkan orang tersebut suka marah-marah dan kaku. Solusinya tentu saja harus lebih santai dan kurangi amarah dalam menghadapi segala sesuatu.
25. Stroke.
Hal ini disebabkan orang tersebut suka marah namun dipendam. Solusinya sama dengan poin no,1 diatas.
26. Anak menderita sakit.
Jika anak tersebut belum akil baligh, maka disebabkan oleh dosa orang tuanya. Misal, jika sang suami sering ngomong bodoh kepada sang istri, maka anak yang dilahirkan tidak normal, seperti pendengaran terganggu, atau terlambat ngomong.
27. Belum dikaruniai anak.
Hal ini disebabkan sang suami kurang atau tidak membantu pekerjaan sang istri.
Pada hari itu, ustad danu menyampaikan, hal terpenting agar tetap sehat yaitu tidak marah dan Intisari yang saya dapat untuk hidup sehat: selalu berbuat baik dan jangan berprasangka negatif. Akhlak baik = sehat.
Selain itu,informasi terpenting yang saya dapat adalah ternyata ustad danu membuka klinik. Jadi yang sakitnya kelas berat lebih baik datang ke klinik tersebut. Kemudian jangka panjangnya, ustad Danu akan membuka rumah sakit yang bernama Akhlak Mulia. (alamathur.com dan berbagai sumber).

Thursday, September 30, 2010

makalah orientalisme


Kontribusi Orientalisme Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Oleh: Aris Kurniawan
(Mahasiswa Fakultas Dakwah Semester V Asal Pekalongan Jawa Tengah)

I. Pendahuluan
Ketika mendengar kata orientalis atau orientalisme mungkin yang pertama kali terlintas di benak kita adalah usaha-usaha dari orang orang barat non islam yang mencoba untuk merusak dan memutarbalikkan ajaran ajaran islam, bahkan yang bersifat fundamental. Hal ini tentu bukan hal yang asing mengingat banyaknya kaum orientalis yang menerbitkan karya yang kontroversial bagi orang islam, bahkan sebagian dianggap telah melecehkan umat islam, entah karena pendapat mereka terhadap agama islam, atau karena pandangan mereka terhadap tokoh tokoh islam.
Perkembangan orientalisme di dunia barat tergolong cukup pesat, mengingat banyaknya ilmuan yang rela mengabdikan dirinya untuk mempelajari peradaban timur. Hal ini bias saja direspon secara positif ataupun negative oleh umat islam sendiri. Respon negatif dari umat islam bisa muncul karena kajian yang dilakukan oleh para orientalis dinilai telah menghasilkan teori yang bertentangan dengan keyakinan umat islam terhadap peradaban islam, bahkan terhadap ajaran islam. Bukan hanya itu saja umat islam juga menganggap hal yang dilakukan para orientalis tersebut mempunyai motifasi motifasi tertentu untuk merusak ajaran agama islam. Sedangkan respon positif muncul karena ada sebagian orientalis yang mempelajari ajaran islam kemudian memeluk islam, karena menemukan kebenaran dalam agama islam. Dan juga para orientalis dinilai menghasilkan karya dengan pandangan yang objektif terhadap peradaban islam dan juga ajaran islam, karena orientasi mereka hanya semata-mata untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Memang para orientalis telah mempelajari agama islam dari sudut pandang mereka, meskipun beberapa kajian para orientalis dianggap objektif, tetapi subjektifitas seseorang tidak bias lepas begitu saja dari pendapat yang ia keluarkan, karena subjektifitas merupakan landasan berpikir dari seseorang. Meskipun begitu karya orientalis itu mempunyai kontribusi yang besar bagi perkembangan pemikiran umat islam. Karena jika muncul pendapat yang dinilai negative dari para orientalis, tentu umat islam tidak akan tinggal diam dan akan membuktikan kepada mereka bahwa teori mereka telah salah.
II. Pembahasan
Setiap hal yang dilakukan seseorang tentu mempunyai manfaat yang dapat kita ambil sebagai pelajaran, entah yang mereka lakukan itu kita anggap sebagai hal yang salah ataupun hal yang benar. Karena menurut saya segala sesuatu yang ada didunia ini saling berhubungan, berkaitan dan saling berpengaruh. Satu hal kecil yang dilakukan seseorang akan menimbulkan efek kepada orang lain.
Hal ini juga yang terjadi ketika para orientalis mulai mempelajari ajaran islam dan kemudian menghasilkan berbagai karya dari penelitian mereka. Bagi saya bukanlah hal yang aneh ketika orang orang barat berbondong-bondong untuk mempelajari peradaban islam, karena sebelum mereka mengenal ilmu pengetahuan, umat islam sudah mencapai masa keemasan dari peradaban mereka, dan hingga kini para orientalis masih melakukan kajian terhadap peradaban islam.
Sebelum melangkah lebih jauh perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan orientalis ataupun orientalisme dan mengapa mereka begitu kontroversial di kalangan umat islam.
1. Pengertian
Orientalisme itu sendiri sebenarnya istilah atau sebutan bagi orang-orang Kristen Eropa (orang Barat) yang mengkaji bahasa, kebudayaan dan segala sesuatu yang berkenaan dengan bangsa-bangsa timur. Orangnya lalu disebut sebagai orientalis.
Namun dalam prakteknya, ternyata studi orang Kristen Barat itu malah lebih mengkhususkan pada ajaran Islam. Terutama soal bahasa Arab dan Al-Qur’an yang merupakan sumber hukum umat Islam. Karenanya kemudian, seperti kata Umar Farrukh dalam Al-Islam wa-’l-Mustasyiriquun, bila dibilang orientalis maka berarti orang Barat non-Muslim yang mengkaji dan ahli dalam bidang ilmu Islam. Orientalis itu memang bukan orang Islam, tapi jago dalam berbahasa Arab atau ilmu-ilmu Islam.
Menurut DR. Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Madinah, orientalisme didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bersumber dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).
Menurut Edward Said ada tiga definisi yang komprehensif dan saling terkait mengenai orientalisme.
Pertama, yang lebih bersifat akademis, orientalisme adalah sebuah tradisi akademis. Definisi ini mengacu kepada lembaga-lembaga dan sarjana yang mempelajari Timur dan menghasilkan serangkaian tesis, bahkan doktrin dan dogma mengenainya.
Kedua, definisi yang lebih umum, orientalisme adalah corak pemikiran (style of thought) yang didasarkan kepada distingsi epistemologis yang dibuat antara Timur dan Barat. Dalam corak pemikiran ini, Timur dipandang sebagai ‘yang lain’ (the other), yang karenanya kemudian Barat bisa ‘diadakan’. Begitulah, sejumlah besar penulis (penyair, novelis, filosof, teoretikus politik, ekonom, dan sebagainya) menerima distingsi pokok anara Timur dan Barat sebagai titik tolak untuk menyusun berbagai teori, epic, novel, deskripsi sosial, dan paparan politik mengenai Timur.
Dan ketiga, definisi yang lebih bercorak historis dan materialis, orientalisme adalah jenis pengetahuan Barat yang bertujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangakan kekuasaan atas Timur. Definisi ini dirumuskan Edward Said berdasarkan gagasan Michael Foucault mengenai wacana (discourse).

2. Sejarah Singkat
Menurut para pengamat menentukan secara pasti awal kemunculan orientalisme sangatlah sulit. Tetapi sebagian sejarawan cenderung bahwa orientalisme bermula dari zaman daulah islamiah di Andalusia. Sebagian lain mengatakan bahwa organisasi ini bermula ketika terjadi Perang Salib. Khusus tentang Orientalisme Ketuhanan keberadaannya sudah tampak secara resmi sejak dikeluarkannya keputusan Konsili Gereja Viena tahun 1312 M dgn memasukkan materi bahasa Arab ke berbagai Universitas di Eropa. Orientalisme muncul di Eropa pada penghujung abad 18 M. Pertama kali muncul di Inggris tahun 1779 M; di Prancis tahun 1799. Dan setelah itu semakin berkembang hingga sanggup mengadakan muktamar tahunan Hingga sekarang tidak kurang dari 30 kali muktamar tingkat internasional telah diselenggarakan belum lagi berupa diskusi seminar dan pertemuan-pertemuan yg bersifat regional seperti muktamar orientalis Jerman yg diselenggarakan di kota Dresden Jerman Barat tahun 1849 M. Sampai sekarang muktamar seperti itu masih tetap berlangsung. Dalam kegiatan itu hadir ratusan ilmuwan orientalis. Dalam muktamar Oxford misalnya telah hadir tidak kurang dari 900 ilmuwan dari 25 negara 80 universitas dan 69 lembaga ilmiah.
3. Kontribusi Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Memang tidak semua karya orientalis membuat pandangan yang miring terhadap agama islam atau menyatakan bahwa sesuatu yang selama ini diyakini oleh orang islam akan kebenarannya kemudian disalahkan oleh penelitian yang kaum orientalis lakukan. Prof. Hamka menyebutkan, bahwa ada tiga tujuan orientalisme di dunia Islam, yaitu (1) Untuk penyebaran agama Kristen ke negeri-negeri Islam, (2) Untuk kepentingan penjajahan, (3) Untuk kepentingan ilmu pengetahuan semata.
Sebuah kajian yang sangat kritis dan serius tentang kajian orientalisme dalam studi Islam baru-baru ini dibahas dalam Jurnal ISLAMIA Vol II/3. Dalam tulisannya, Hamid Fahmy Zarkasyi menunjukkan, bahwa betapa pun halusnya, ada saja kekeliruan orientalis dalam melakukan studi terhadap Islam. Montgomery Watt, misalnya, yang selama ini dianggap orientais moderat, ketika menulis tentang Al-Quran dan hadits, ia juga meragukan otentisitas ajaran Islam. Ia mencoba membuktikan, bahwa bagian Al-Quran dan hadits adalah dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karena itu tidak dapat dijadikan sebagai sumber pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya ayat-ayat setan dalam Al-Quran. (Muhammad at Mecca, 1960, 103).
Dengan kata lain karya dari Montgomery tersebut telah menggugah umat islam untuk meneliti lebih jauh tentang peradaban islam sendiri dan memilah milah mana yang fakta dan mana yang opini. Dan berusaha untuk melawan teori yang dikemukakan oleh para orientalis dengan argument yang dapat mereka terima bukan dengan alquran atau hadis. Dan juga tidak hanya mengkritisi karya karya orientalis dari sudut pandang orang islam sendiri, atau hanya menyatakan bahwa apa yang mereka kemukakan itu salah tetapi juga mampu membuktikannya. Hal ini bias kita lihat dari banyaknya orang islam yang menjadi kristolog untuk kemudian mengemukakan argument berdasarkan agama mereka. Hal ini kelihatannya bukan lagi menjadi masalah ilmu pengetahuan saja tetapi juga masalah persaingan agama.
Tetapi banyak juga teori dari para orientalis yang dianggap cukup obyektif salah satunya adalah yang diambil oleh Qosim Nursheha Dzulhadi yang menyatakan bahwa tasawuf murni berasal dari agama islam dengan argument yang dikemukakan oleh, Nicholson. Ia berkata; ''Kita tidak melihat dari perkataan para Sufi yang zuhud, seperti Ibrahim bin Adham (w. 161 H), Daud al-Thâ'iy (w. 165 H), Fudhail bin 'Iyâdh (w. 187 H), Syaqîq al-Balkhiy (w. 194 H), yang menunjukkan bahwa mereka terpengaruh oleh Kristianitas atau dengan sumber-sumber asing yang lainnya, kecuali hanya sedikit sekali. Dengan kata lain, tampak jelas bagi kita bahwa jenis ini
(Sufisme Islam) adalah –setidaknya ada kemungkinan—lahir dari gerakan Islam
itu sendiri. Ia merupakan produk yang lazim dari pemikiran Islam yang
berasal dari Allah.''
Dalam bidang sufisme islam para orientalis mempunyai kontribusi yang sangat besar. Menurut Dr. Adil Al-Alusiy, Nicholson telah menulis sebuah studi yang cukup berharga tentang pengaruh pengaruh asing dalam sufisme islam dan juga diskusinya mengenai masalah masalah penting sufisme ketika menganalisa konsep wahdatul wujud menurut al-hallaj, ibnu Faridh dan juga Ibnu Arabi.
Selain itu para orientalis juga banyak melakukan verifikasi tentang literature sufisme seperti verifikasi L. Masignon atas Rasa’il Al-Hallaj yang ditulis oleh Abu Mughits Husain bin Mansyur. Kemudian J Von Hammer yang menerjemahkan buku Al-Taiyah al-Kubra karya Ibnu Faridh ke dalam syair.
Hal tersebut seharusnya menggugah umat islam untuk bias berbuat lebih baik dan lebih kritis daripada yang dilakukan oleh para orientalis. Dan juga umat islam tidak boleh lengah apalagi merasa terbantu. Karena itu umat islam harus mengkritisi kontribusi mereka. Karena sebagaimana kajian Dr. Luthil (Dekan Islamic Studies. Universitas Mc. Gill, Canada), beliau menyatakan bahwa tidak semua kaum sufi itu masuk dalam bingkai islam, bahkan diantara mereka ada yang amat berlebih lebihan yang digolongkan kafir (dikafirkan) oleh sebagian umat islam.
Kemudian dalam bidang hokum islam para orientalis juga banyak melakukan kajian bahkan sejak zaman Ignaz Goldziher (1855-1921), David Santillana (1855-1931), dan Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) hingga masa keemasan Joseph Schacht (1902-1969), yang ternama karena studi-studi hukum Islamnya, hukum Islam telah banyak dikaji di Barat.
Kemudian bagaimana dengan umat islam itu sendiri seharusnya mereka lebih banyak dan lebih lama melakukan kajian terhadap hokum islam dan menghasilkan hokum yang lebih sesuai dengan ajaran islam daripada kajian yang dilakukan oleh para orientalis.
Memang pernah ada anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan umat islam hanya cukup dengan apa yang telah ada pada zaman rosul dan sahabat. Padahal jika ditelusuri, maka pendapat umum bahwa pintu ijtihad telah tertutup sesungguhnya tidak lepas dari kontribusi ilmiah para orientalis generasi pertama seperti Ignaz Goldziher dan Snouck Hurgronje. Tetapi Joseph Schacht-lah kemudian yang banyak sekali menyebut dan mempopulerkan pandangan ini dalam karya monograph-nya seperti ¬The Origin of Muhammadan Jurisprudence dan The Introduction to Islamic Law, maupun karya-karya essay lainnya.
Karena banyaknya karya para orientalis kemudian muncul perlawanan dari umat islam sendiri. Perjuangan melawan para orientalis itu timbul pada suatu perspektif baru oleh Edward Said dalam bukunya tentang Orientalism. Dia terutama tertarik kepada "orientalisme modern" yang mulai ke arah akhir abad ke delapan belas.
III. Kesimpulan
Ada banyak efek yang ditimbulkan dari kajian yang dilakukan para orientalis. Entah itu negative ataupun positif. Tetapi menurut saya para orientalis itu telah menimbulkan semangat dari umat islam untuk lebih mencintai agamanya dan juga menyaring informasi yang masuk dengan lebih teliti. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ulil Abshar Abdalla “Kawan, surat Anda tentang peran orientalis dalam pengkajian Islam sangat baik. Poin yang perlu ditambahkan kepada ulasan Anda adalah: jika umat Islam merasa keberatan dengan studi-studi orang barat atas “dunia timur”, maka ada baiknya orang Islam melakukan “orientalisme terbalik”, yakni timur melakukan kajian atas barat. Dengan demikian akan terjadi proses belajar yang saling memperkaya antara wetan dan kulon.
Kemudian kita perlu bertanya mengapa para orientalis itu mempelajari agama dan peradaban islam dengan sungguh sungguh. Bias jadi ada banyak motifasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Hamka. Wilfred Cantwell Smith telah menulis: Pengamatan saya pada studi Ketimuran dan sedikit tentang Afrika lebih dari dua puluh tahun, bahwa kekurangan dan cacat mendasar peradaban Barat dalam peranannya di dunia sejarah adalah arogansi (kesombongan), dan sikap ini juga telah mempengaruhi sikap Gereja Kristen. Mungkin hal ini juga menjadi latar belakang mereka dan juga sebagaimana yang kita ketahui bahwa ajaran agama Kristen juga bermasalah sehingga terpecah menjadi dua.
Selain itu banyak juga yang memang mencari kebenaran tentang agama islam. Hal ini bias dilihat dari beberapa orientalis yang masuk islam. seperti Dr. Abdul Karim Germanus (dulu bernama Julius Germanus) (1884-1979) adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia.


Daftar Pustaka
• Tabloid Online Sumenep
• http://www.kaorinusantara.web.id/
• E-book Al-islam chm
• Hamka, Studi Islam,1985
• http://www.insistnet.com
• Dr. As’ad Al-Sahmaraniy. Al-Tasawuf Mansyauhu wa Mushtalahatuhu. 2000
• Dr. M. Qadari Ahdal. Wawancara dengan Sepuluh Tokoh Orientalis. 1991.
• http://orientalismehukumislam.blogspot.com
• http://islamlib.com/
• http://www.inpasonline.com/

Monday, September 13, 2010

sehat alami dan islami 1


Hampir setiap pagi keluarga saya selalu menyaksikan acara bengkel hati di tpi yang dibawakan oleh ustad danu. Di acara itu kita bias mendapatkan solusi dari penyakit yang kita derita tanpa bantuan obat obatan, solusinya hanya satu yaitu memperbaiki akhlak kita dengan allah dan dengan makhluk. Memang selama ini kita menganggap bahwa penyakit yang kita derita adalah berasal dari makanan yang kita makan atau sebab lain dari luar.
Memang benar bahwa menurut riwayat rosulullah selalu menjaga makanannya sehingga dalam seumur hidupnya beliau tidak pernah sakit. Menurut ustadz Abdullah Mahmud rasulullah tidak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari hari. Karena rosulullah melakukan diet yang membuat apa yang beliau makan bias menjadikan manfaat positif bagi tubuh. Dari artikel yang saya baca dari majalah derap guru punya ibu saya, saya dapat melihat bahwa rosulullah :
- tidak minum susu bersama daging
- tidak makan daging bersama ikan
- tidak makan ikan bersama susu
- tidak makan ayam bersama susu
- tidak makan ikan bersama telur
- tidak makan ikan bersama daun salad
- tidak minum susu bersama cuka
- tidak makan buah bersama susu
- sesekali jangan makan malam
- jangan makan buah setelah makan nasi, tapi makanlah buah sebelum makan nasi
kita tidak boleh makan makanan darat bercampur dengan makanan laut karena menurut penelitian daging ayam mengandung ion+, sedangkan ikan mengandung ion -, sehingga jika dimakan bersamaan akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat merusak usus kita. Sebagaimana aliran listrik yang mengalir dari ion positif ke ion negative.
Selain itu rosul juga sering minum air sejuk setiap pagi tapi bukan air es karena di arab dulu tidak ada kulkas. Dan juga ketika sholat rosulullah sujud dengan waktu yang lama, hal ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan beberapa millimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang dipenuhi darah hanya ketika kita melakukan sujud. Dan juga ketika makan rosulullah selalu menggunakan jari dan menjilati jarinya, karena menurut ilmuwan bahwa enzim yang terdapat di celah jari 10 kali lebih banyak dari enzimyang terdapat dalam air liur. Seperti yang kita ketahui rosulullah juga sering melakukan puasa, karena sebagaimana sabda beliau bahwa puasa itu menyehatkan, bukan hanya jasmani tetapi juga rohani. Rata Penuh

Wednesday, July 21, 2010

PERSPEKTIF UMAT ISLAM DALAM MENERIMA INFORMASI BARU


PERSPEKTIF UMAT ISLAM DALAM MENERIMA INFORMASI BARU
aris kurniawan
Sering kita mendengar ungkapan ‘Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan’. Dan kata kata ini seringkali diungkapkan oleh orang kita anggap lebih pintar dari kita. Tetapi benarkah hal ini dibolehkan dalam agama islam, karena tidak jarang seseorang yang kita anggap lebih baik agamanya justru melakukan sesuatu yang berlawanan dengan alquran atau hadis. Bukan karena tidak tahu atau sengaja, tetapi mungkin karena apa yang mereka maksudkan sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang ditangkap oleh pendengar, karena perbedaan persepsi atau sudut pandang, juga ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Tapi jika menerima sesuatu tanpa melihat pemberinya tetap dilakukan, maka generasi berikutnya pasti akan terjerumus dalam kesesatan karena melakukan taqlid terhadap orang lain. Karena memang nilai benar dan salah itu sangat sulit untuk diterapkan dalam berbagai sudut pandang, karena kita tidak boleh memandang dari satu sisi maka nilai benar dan salah pun menjadi terbagi sesuai sisi sisi itu. Tetapi apakah islam tidak mempunyai standar baku tentang nilai benar dan salah itu.
Jika kita menilik alquran dan hadis maka jelas bahwa keduanya merupakan sumber kebenaran hanya saja tanggapan, persepsi, atau pemehaman orang terhadap keduanya akan menghasilkan hal yang berbeda-beda. Pemahaman mahasiswa terhadap kata “iqra” tentu berbeda dengan pemahaman dosen terahdap kata tersebut. Tetapi meskipun begitu tetap ada benang merah yang menjadi persepsi yang paling benar dari persepsi yang lain.
Mengenai pernyataan “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan” jika diterapkan dalam masalah selain agama mungkin tidak apa apa, tetapi jika diterapkan dalam kehidupan beragama maka ungkapan ini harus dilihat dari sisi yang berbeda yaitu persepsi syariat islam atau dipersempit jangkauannya.
Pernah diceritakan bahwa perawi hadis Al-Bukhari pernah tidak menshahihkan sebuah hadis hanya karena perawi hadis itu memperlakukan hewan piaraannya dengan tidak baik. Dan dalam agama islam seorang saksi haruslah orang yang sudah mumayyiz. Dalam muqaddimah Shahih Bukhari dijelaskan bahwa Seorang Tabi’in yang bernama Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullah berkata, “Mereka (yakni para ulama hadits) tadinya tidak menanyakan tentang sanad tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkan kepada kami nama rawi-rawimu, bila dilihat yang menyampaikannya Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya ahlul bid’ah, maka haditsnya ditolak.”
Hal ini terbukti dalam periwayatan hadis bahwa hadis yang paling kuat adalah hadis yang mutawatir, yang salah satu syaratnya adalah rawi-rawinya (periwayat hadis) tsiqat dan mengerti terhadap apa yang dikabarkan dan (menyampaikannya) dengan kalimat pasti. Dan kualitas sebuah hadis bisa berkurang karena perawinya kurang dhabit atau kurang kuat hafalannya. Selain itu Abdullah bin al-Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullah pernah berkata: “ Sanad itu termasuk dari agama, kalau seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia inginkan"
Melihat beberapa hal diatas maka ungkapan untuk hanya melihat apa yang dikatakan kiranya perlu dibatasi dalam koridor tertentu, karena dari satu hal terdapat banyak sisi untuk dilihat, dan tentu saja umat islam tidak bisa hidup tanpa umat yang lain, entah itu Kristen, hindu, yahudi, budha, atau yang tidak beragama sekalipun. Karena tidak jarang ilmu mengenai dunia didapatkan oleh orang non islam, sebagaiman teknologi yang sekarang berkembang pesat saat ini dipegang oleh orang non islam dan orang islam rata rata hanya menjadi konsumen saja.
Sadar atau tidak ketika itu umat islam sedang mengambil sesuatu tanpa melihat dari mana sesuatu berasal. Bahkan dalam hal agama pun tidak ketinggalan karena memang mudah terpengaruh itu merupakan sifat manusia ketika menginginkan sesuatu. Bahkan perkembangan barat pun diawali karena pengaruh islam yang sedang berkembang. Dan pertanyaannya apakah umat islam sekarang baru bisa berkembang jika mengambil pengaruh dari kelompok yang berkembang.
Semoga saja umat islam belum kehilangan kreatifitasnya hanya karena mengutamakan kehidupan akhirat dan mengesampingkan kehidupan dunia, semoga saja umat islam tidak sibuk berdzikir untuk keselamatan pribadinya di akhirat hingga melupakan kewajibannya sebagai khalifah dibumi, semoga saja umat islam tidak hanya sibuk mengurusi masalah sepele seperti ikhtilaf ulama fiqih, karena fiqih hanya merupakan pendapat dan pemahaman seseorang terhadap nash, dan melupakan masalah yang besar yaitu kesatuan umat islam. Dan semoga saja umat islam tidak sibuk berkumpul tetapi hanya menjadi seperti buih di lautan yang tidak mempunyai kekuatan. Wallahu a’lam. (Arisk)