Rabu, 19 Januari 2011

Konseling Ego: Teori Pendekatan Konseling Menurut Carl Gustav Jung dan Erich Fromm


Konseling Ego: Teori Pendekatan Konseling Menurut Carl Gustav Jung dan Erich Fromm
Oleh : Aris Kurniawan
I. Pendahuluan
Carl Gustav Jung dan Erich Fromm merupakan dua tokoh pionir dalam bidang psikologi eksistensi kemanusiaan (humanistic- existential psychology). Kedua tokoh tersebut berasal dari daratan eropa, sesuai dengan tempat perkembangan ilmu psikologi. Keduanya merupakan pakar dalam psikoanalisa. Tetapi keduanya mempunyai pendapat masing masing yang berbeda dalam bidang yang digelutinya, termasuk dalam bidang konseling ego.
Pada dasarnya teori dari kedua tokoh tersebut lebih berhubungan dengan bidang psikologi dan psikoterapi karena keduanya merupakan tokoh yang berpengaruh dalam bidang psikologi. Jung sendiri merupakan seorang psikiater yang juga merupakan pendiri dari psikoanalisa modern. Sedangkan Erich Fromm merupakan seorang psikolog dan psikoanalis, Keduanya merupakan tokoh besar dalam bidang psikoanalis modern yang merupakan kelanjutan dari teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Tetapi keduanya mempunyai teori yang sama sekali berbeda dengan pendahulunya, Sigmund Freud, bahkan ada beberapa kritik dari mereka terhadap teori dari Freud.
Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa meskipun freud dan beberapa tokoh lain yang muncul setelahnya masih membahas mengenai psikoanalisa tetapi terdapat perbedaan pendapat yang cukup tajam antara teori psikoanalisis klasik (Freud) dan psikoanalisis baru (Jung, Adler, Rank, Horney, Fromm, Sullivan, dll)
Kita dapat melihat bahwa Freud merupakan penggagas awal dari teori psikoanalisa yang kemudian dikembangkan oleh banyak tokoh yang sekaligus memunculkan berbagai teori baru, dan bahkan Jung sendiri merupakan pionir yang terkenal dalam bidang analisis mimpi (dream analysis). Dan Fromm sendiri juga merupakan pendiri dari psikologi politik melalui bukunya Escape from Freedom.
Tulisan dan karya karya Jung khususnya dan Erich Fromm pada umumnya, dipengaruhi oleh religiusitas yahudi. Seperti dialog jung dengan freud tentang mimpi, yaitu confrontation with the unconscious, karya karya dari Erich Fromm seperti The art of loving, escape from freedom, dan man for himself.
Kita dapat melihat bahwa keduanya tetap dipengaruhi oleh pandangan dari Freud dan juga religiusitas yahudi, karena keduanya beragama Kristen. Dan teori teori mereka banyak digunakan oleh para pastor dalam melakukan bimbingan kepada jamaahnya.

II. Pembahasan
Untuk lebih memperjelas teori maupun pendapat dari Jung dan Fromm dalam bidang konseling ego maka perlu dibahas mengenai dasar dari konseling ego sendiri yang merupakan pengembangan dari sebuah metode psikoterapi. Karena keduanya merupakan psikiater dan juga psikolog.
Setiap terapis atau konselor memilih jalan yang dalam persepsinya mampu mengembalikan keseimbangan diri pasiennya, baik dengan konsep kesehatan mental menurut freud (keseimbangan antara ego dan super ego), menurut jung (perkuatan ego) menurut adler (mengalihkan rasa kekurangan diri dalam diri dan mengubah gaya hidup), menurut frank( menerima kenyataan akan traumatis masa kecil dan membentuk keinginan yang kuat) maupun menurut Sullivan(memperbaiki konsep diri)
Fungsi ego sendiri menurut para pengiikut Freud dalam bidang psikologi ego adalah lebih dari sekedar wasit penengah yang harus peka akan keinginan-keinginan dari “tuan-tuannya”dan yang harus mengkompromikan dengan keinginan keinginan tesebut. Tuan tuan dan keinginan kienginan yang dimaksud disini adalah dorongan dorongan naluriah dengan prinsip kenikmatannya pada satu sisi dan super ego yang merupakan otoritas orang tua yang sudah diinternalisasikan dengan prinsip realitasnya di sisi yang lain.
Konseling disini tidak berlawanan dengan psikoterapi. Keduanya adalah kembar siam. Karena konseling adalah satu bentuk terapi dengan dialog, analisis, dan bimbingan. Posisinya sebagai bagian dari terapi adalah karena adanya analisis diri. Sisi inilah yang berkaitan erat dengan makna khusus dari apa yang disebut psiko terapi. Terapi dengan dialog, analisis, dan bimbingan, memiliki model yang sangat beragam. Berbagai teori bisa masuk dalam dunianya, baik dari sisi tematis maupun aplikatifnya.
Psikoanalisis adalah salah satu aliran psikologi kepribadian yang meletakkan dasar metodologi kajian psikologi. Pada dasarnya ia adalah salah satu aliran psikoterapi. Ide dasarnya adalah adanya upaya mengangkat pikirantidak sadar muncul ke permukaan dan disadari eksistensinya dengan cara asosiasi bebas. Tujuannya adalah untuk membantu paisen dalam menyadari problematika yang dihadapinya dengan mengendalikan goncagan kejiwaan yang berasal darinya. Juga merekonstruksi kepribadian yang selaras antara id, ego, dan superego.
Sebagian psikolog psikoanalisis setelah Freud, seperti Heinz, Hartman, Ernest kris, dan david rapaport mengkaji ulang teori psikoanalisis dan mereka membuktikan bahwa ego memiliki peranan dalam keseimbangan hidup, baik itu normal maupun penyimpangannya. Merekapun mengakui kemndirian ego dalam menggambarkan usaha individu dalam menyikapi kebutuhan hidup.
Psikoanalisis berpendapat bahwa manusia layaknya binatang yang digerakkan oleh insting biologisnya. Sedangkan beragam aktifitasnya (menuntut ilmu, mempelajari seni, beragama, dan banyak lainnya), semua itu dijalaninya hanya untuk memuaskan keinginanya. Kebahagiaan hanya bisa tercapai bila manusia mampu memuaskan inting primitifnya melalui id, ego, dan super ego.
Untuk lebih memperjelas teori teori dari mereka, berikut ini adalah pembahasan mengenai konseling ego dan beberapa teori lain yang mereka kemukakan.
1. Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung merupakan orang berkebangsaan Swiss yang lahir pada tahun 1875. Beliau sudah mengenal tentang studi mengenai perbandingan berbagai agama melalui komik komik yang diberikan oleh ibunya. Jung mempunyai minat yang besar terhadap gambar gambar eksotik dewa dewa dalam agama hindu. Beliau merupakan tokoh penting dalam ilmu psikologi, dan dianggap kontroversial oleh banyak ahli psikologi lain. Beliau merupakan seorang psikiater dan juga seorang dokter, meskipun sebelumnya jung bercita cita untuk menjadi arkeolog.
Beliau telah membuat kontribusi yang radikal dan menonjol dalam 4 bidang psikologi, yaitu:
- Bidang Psikologi Behavioral, melaui penelitiannya tentang asosiasi kata kata, yang juga menjadi dasar pengembangan tes deteksi kebohongan.
- Bidang Psikologi Psikodinamis, beliau mendorong batas teori psikodinamis lebih luas dari yang pernah dilakukan Freud.
- Psikologi Humanistik, jung berusaha mengantisipasi semua tema utama dalam pendekatan eksistensi humanistik, terutama dalam konsep “self”( yang merupakan integrasi dari prinsip psikologi manusia), imajinasi aktif dan kesadaran manusia.
- Psikologi Transpersonal, dalam bidang ini jung sudah menjadi pakar sejak sebelum bidang ini dianggap sebagai cabang psikologi.
Teori kepribadian Jung biasanya dipandang sebgai teori psikoanalitik karena tekanannya pada proses-proses ketidaksadaran, namum berbeda dalam sejumlah hal penting dengan teori kepribadian Freud. Mungkin segi yang paling khusus dan mencolok dalam pandangan Jung tentang manusia adalah bahwa ia tidak hanya ditentukan oleh sejarah individu dan ras (kausalitas), tetapi juga ditentukan oleh tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi (teologi). Baik masa lampau sebagai aktualitas maupun masa depan sebagai potensialitas sama-sama membimbing tingkah laku sekarang. Mengutip kata-kata Jung, “ Orang hidup dibimbing oleh tujuan-tujuan maupun sebab-sebab”.
Carl jung percaya bahwa kita semua berpotensi hidup dalam totalitas keberadaan kita, segala naluri, dorongan, dan hasrat yang menjadikan kita manusia. Mungkin sebagai pengurus yang peka, atau pengusaha yang agresif.
2. Pokok-pokok Teori Carl Gustav Jung
a. Struktur kepribadian
Kepribadian atau psyche (istilah yang dipakai Jung untuk kepribadian) tersusun dari sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran : ogo beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif.
Disamping sistem-sistem yang terkait dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap jiwa (introvert dan ekstravert) dan fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pengidraan, dan intuisi).
a. Sikap jiwa, adalah arah enerji psikis (libido) yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Sikap jiwa dibedakan menjadi :
1. Sikap ekstrovert
> libido mengalir keluar
> minatnya terhadap situasi sosial kuat
> suka bergaul, ramah, dan cepat menyesuaikan diri
> dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain berkipun ada masalah.
2. Sikap introvert
> libido mengalir ke dalam, terpusat pada faktor-faktor subjektif
> cenderung menarik diri dari lingkungan
> lemah dalam penyesuaian social
> lebih menyukai kegiatan dalam rumah
b. Fungsi jiwa, adalah suatu bentuk aktivitas kjiwaan yang secara teoritis tetap meskipun lingkungannya berbeda-beda. Fungsi jiwa dibedakan menjadi dua ;
o Fungsi jiwa rasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja dengan penilaian dan terdiri dari :
> pikiran : menilai benar atau salah
> perasaan : menilai menyenangkan atau tak menyenangkan
o Fungsi jiwa yang irasional, bekerja tanpa penilaian dan terdiri dari :
> pengideraan : sadar indrawi
> intuisi: tak sadar naluriah
Menurut Jung pada dasarnya setiap individu memiliki keempat fungsi jiwa tersebut, tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang berkembang atau dominan. Fungsi jiwa yang berkembang paling meonjol tersebut merupakan fungsi superior dan menentukan tipe individu yang bersangkutan.

3. Struktur Kepribadian.
Keseluruhan kepribadian atau psikhe, sebagaimana disebut oleh Jung terdiri dari sejumlah sistem yang berbeda, namun saling berinteraksi. Sistem-sistem yang terpenting adalah ego, ketidaksadaran pribadi berserta kompleks-kompleksnya, ketidaksadaran kolektif beserta arkhetipus-arkhetipusnya, persona, anima dan animus, dan bayang-bayang. Disamping sistem-sistem yang saling tergantung ini terdapat sikap-sikap introversi dan ekstraversi, serta fungsi-fungsi pikiran, perasaan, pendirian, dan intuisi. Akhirnya terdapat diri (self) yang merupakan pusat dari seluruh kepribadian.
• Kesadaran (Consciusness) dan Ego
Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan sadar. Ego melahirkan perasan identitas dan kontinuitas seseorang, dan dari segi pandangan sang pribadi ego dipandang berada pada kesadaran.
4. Erich Fromm
Merupakan seorang psikoanalis dan pembuat teori sosial dari jerman, yang lahir pada tahun 1900, yang selalu melihat dirinya sebagai neo freudian dalam orientasinya. Tetapi banyak yang menganggapnya sebagai pemegang posisi kunci dalam perkembangan kemanusiaan. Fromm melihat kehidupan manusia sebagai dasar pertentangan karena manusia merupakan bagian dari alam dan sekaligus terpisah darinya, kita adalah binatang dan manusia. Beliau mengemukakan mengenai lima dasar kebutuhan eksistensi yaitu: relatedness (keterhubungan), transendence (kebersandaran), rootedness, identify dan frame orientasi.
Fromm berpendapat bahwa karakter sosial adalam sebuah proses mediasi antara ketidaksadaran individual dengan arah ekonomi dan sosial. Jenis karakter yang terpisah berkembang untuk memasangkan aturan dan fungsi yang dibutuhkan masyarakat. Dalam budaya barat ada lima tipe dasar yaitu: receptive, exploitative, hoarding, marketing dan productive.
Fromm meyakini bahwa kebebasan adalah sebuah aspek alami manusia yang bisa kita ambil atau tinggal. Dia memeriksa bahwa ketika kita mengambil kebebasan itu maka kita akan menjadi sehat. Dimana meninggalkan kebebasan menggunakan proses pelarian diri merupakan akar dari masalah psikologi. Fromm mengidentfikasi ada 3 bentuk umum mekanisme pelarian diri: automaton conformity, authoritarianism, and destructiveness. Automaton conformity adalah merubah idealism seseorang untuk menerima persepsi umum yang mengacu pada jenis keprobadian, pada prosesnya menghilangkan diri sejati seseorang. Automaton conformity menggantikan beban memilih dari diri sendiri ke masyarakat. Authoritarianism memberikan kendali dari seseorang kepada oranglain. Dengan dengan menyerahkan kebebasan seseorang kepada orang lain, hal ini akan menghilangkan kebebasan memilih hamper secara keseluruhan. Kemudian yang terakhir adalah destructiveness adalah sebuah prosies yang mencoba menghilangkan yang lain atau dunia secara keseluruhan, semua hanya untuk menghindar dari kebebasan. Sebagaimana kata Fromm "the destruction of the world is the last, almost desperate attempt to save myself from being crushed by it" kerusakan dunia adalah yang terakhir, hamper mustahil untuk menyelamatkan diriku sendiri dari kerusakan itu. (1941).
Kosa kata biofilia sering digunakan oleh Fromm untuk menjelaskan arah produktif psikologi dan keadaan. Sebagai contoh tambahan dalam bukunya The Heart of Man: Its Genius For Good and Evil, Fromm menulis teori tentang humanis credo:
"I believe that the man choosing progress can find a new unity through the development of all his human forces, which are produced in three orientations. These can be presented separately or together: biophilia, love for humanity and nature, and independence and freedom." (c. 1965)
Erich Fromm mempunyai dalil tentang delapan kebutuhan dasar:
> Keterkaitan dan keterhubungan dengan yang lain, peduli, menghormati, pengetahuan.
> Transendensi kreatifitas, mengembangkan kehidupan yang menarik dan penuh cinta.
> Akar akar rasa memiliki
> Identitas rasa melihat diri kita sebagai manusia yang unik dan bagian dari kelompok social
> Kerangka orientasi, mengerti dunia dan tempat kita di dunia
> Perangsangan dan stimulasi, Secara aktif berjuang untuk tujuan bukan hanya sekedar tanggapan yang sederhana
> Kesatuan, perasaan bersatu antara seseorang dan alam dan dunia diluar manusia
> Keefektifan, kebutuhan untuk merasa terselesaikan
Tesis Fromm tentang "escape from freedom" melambangkan bagian berikut. Makhlkuk individual yang kehilangan ikatan primer seperti alam, keluagra, dsb. Yang juga diungkapkan dalam "freedom from":
"There is only one possible, productive solution for the relationship of individualized man with the world: his active solidarity with all men and his spontaneous activity, love and work, which unite him again with the world, not by primary ties but as a free and independent individual.... However, if the economic, social and political conditions... do not offer a basis for the realization of individuality in the sense just mentioned, while at the same time people have lost those ties which gave them security, this lag makes freedom an unbearable burden. It then becomes identical with doubt, with a kind of life which lacks meaning and direction. Powerful tendencies arise to escape from this kind of freedom into submission or some kind of relationship to man and the world which promises relief from uncertainty, even if it deprives the individual of his freedom."
Konseling Ego Dalam Beberapa Aliran Psikoterapi Kontemporer
Ada lima aliran yang mewarnai dunia psikoterapi masa kini / kontemporer. Metode yang sering dipakai oleh para ahli psikoterapi sekuler adalah dengan mengembangkan suatu eclectisism(system filsafat yang menggunakan pemilihan dari berbagai sumber) yang terintegrasi, yang menggunakan berbagai pemahaman dan metode dari bermacam macam pendekatan penyembuhan. Agar dapat digunakan secara efektif maka berbagai sumber daya ini harus diintegrasikan di sekitar suatu inti asumsi yang konsisten tentang tabiat, proses, dan tujuan penyembuhan dan keutuhan.
Dalam konseling pastoral, metode yang digunakan pada masa awal pelayanan adalah menggunakan psikoanalisa, yaitu suatu system psikologi ego sebagai kerangka kerja konsepsional yang mempersatukan. Dan pada masa kini prinsip prinsip konseling konseling pertumbuhan (yang mencakup banyak pemahaman psikologi ego) menjadi suatu system integrasi yang menghasilkan banyak perubahan.
Dari sekian banyak aliran psikoterapi, semuanya dapat dibagi menjadi lima kategori yang salingmelengkapi, dan bertumpang tindih dan juga bertentangan dalam beberapa hal. Kelima aliran tersebut adalah:
1. Terapi yang berorientasi pada pemahaman tradisional
Aliran ini dimulai oleh karya perintis Sigmund Freud, yang mencakupkebanyakan terapi yang berkembang sebelum dua decade terakhir. Termasuk Freud dan para ahli analis ego, Adler, Rank, Fromm, Horney, Sullivan, dan carl Rogers.
2. Terapi perilaku, tindakan, krisis
Kelompok terapi ini dihubungkan oleh asumsi bahwa belajar secar salah adalah penyebab dasar dari segala masalah hidup. Karena itu inti dari perubahan yang menyembuhkan adalah memperlajari kembali perilaku dan atau cara berpikir yang tepat
3. Terapi potensi manusia
Aliran ini mencakup berbagai terapi non analitik yang tujuan khasnya adalah untuk membantu orang mengaktualisasikan berbagai macam potensi mereka sepenuhnya, seperti analisis transaksional, terapi gestalt, dan terapi badan
4. System relasional dan terapi radikal
Aliran ini mencakup semua terapi yang bertujuan untuk membebaskan berbagai system social yang kecil maupun yang lebih besar sehingga semua anggotanya dapat hidup dengan lebih bebas dan lebih konstruktif.
5. Terapi pertumbuhan rohani
Aliran ini mencakup berbagai teori yang memandang penyembuhan dan pertumbuhan rohani menuju keutuhan spiritual sebagai pusat bagi seluruh penyembuhan dan pertumbuhan. Berbagai pendekatan seperti dari carl jung, dari para ahli terapi eksistensialis, ahli psikosisntesis, ahli psiko terapi pastoral, dan dari pendekatan dunia timur untuk meningkatkan kesadaran.






Daftar Pustaka
> Butler, Timothy.2007. Getting Unstuck. Jakarta: Serambi. Hal 77
> Clinebell, Howard John. 2002. Tipe-tipe dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral: sumber-sumber untuk pelayanan penyembuhan dan pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 498
> Erich Fromm, Escape from Freedom [N.Y.: Rinehart, 1941], pp. 36-7. The point is repeated on pp. 31, 256-7
> Gerkin, Charles V. 1992. Konseling Pastoral dalam Transisi. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 105
> http://en.wikipedia.org
> http://konselingindonesia.com/
> Izzudin, Muhammad Taufiq. Panduan Lengkap Dan Praktis Psikologi Islam Jakarta: Gema Insani Press
> Sularto, St.2004. Bukuku kakiku. Jakarta: Gramedia. Hal: 180

0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komen bozz asal sopan ,,, :-)